Menarik Garis Perjuangan

Oleh : Muhammad Atim

Bidang Kajian Ilmiah PW HIMA Persis DKI Jakarta

Mahasiswa/i Persatuan Islam (PERSIS) adalah sekelompok kaum muda yang menyimpan banyak potensi, terlebih mereka lahir dari rahim pusat pembangunan mental, moralitas dan keilmuan bernama Pesantren, sebuah sistem pendidikan yang telah ada di bumi nusantara sebelum munculnya sekolah-sekolah umum dan telah mampu melahirkan tokoh-tokoh besar yang telah berperan dalam membangun negeri ini, dan belakangan dituduh sebagai sarang terorisme. Nuansa kehidupan pesantren yang merupakan penggambaran dari “Islamic Lifestyle” (corak hidup islam) setidaknya menjadi bekal utama saat terjun ke dunia kemahasiswaan yang sarat dengan dinamika intelektual dan pemikiran.
Masih terngiang dalam ingatan kita bagaimana kegigihan Al-Asatidz di pesantren dalam memahamkan, menyerukan dan menerjemahkan Al-Islam dengan dua landasannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk dijadikan prinsip dan pegangan hidup, kapan pun dan dimana pun kita berada. Maka, merupakan sebuah kebanggaan terbesar bagi kita, di saat kebanyakan mahasiswa hanyut dan tenggelam dalam arus globalisasi pemikiran yang terpeleset dan bersebrangan dari jalan Al-Islam, sementara kita teguh memegang prinsip itu, bahkan ketika masuk dalam ruang wacana pemikiran, dialektika intelektual, dan terlebih saat menginjakkan kaki di ranah pergerakan berskala nasional.

Prinsip itulah yang menjadi landasan gerak dalam mengambil peran sebagai “Direktur Of Change” di negeri yang telah porak poranda bangunan-bangunan moralnya ini. Memang terkesan terlalu sederhana jika didudukkan dalam tren intelektual kemahasiswaan yang “menjlimet”. Tetapi marilah kita kembali mendalami Islam sebagai sebuah ideologi pergerakan yang unggul, karena ia merupakan pesan wahyu Ilahi yang suci yang mencakup syariat dan peradaban mulia dan paripurna. Saatnya untuk mengeja huruf-huruf sejarah bagaimana Islam mampu memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Bukan untuk mengenang dan memanggut-manggut mengaguminya sebagai hiasan sejarah kemanusiaan, tetapi untuk dijadikan inspirasi dalam berperan meneruskan garis perjuangan pejuang-pejuang Islam, khususnya di bumiIndonesia yang tak lain telah dimerdekakan oleh jerih payah pahlawan-pahlawan Islam nusantara.

Indonesia telah dimerdekakan dan dibangun oleh pejuang-pejuang Islam seperti Pangeran Diponegoro (1785-1855), Imam Bonjol (1772-1864), Panglima Pattimura (bernama asli Ahmad Lussy, 1783-1817), Cut Nyak Din (1850-1908), Jenderal Sudirman (1916-1950), Muhammad Natsir (1908-1993), Bung Tomo (1920-1981), dan sederet pejuang-pejuang Islam lainnya yang gigih menjaga garda Islam di Indonesia dengan semangat Jihad Fi Sabilillah dan penegakkan syariat Islam. Kalau kita mengenali sejarah dengan jujur, kita akan menyadari bahwa sejarah Nasional Indonesia sesungguhnya adalah sejarah perjuangan umat Islam. Tetapi memang, sejarah adalah milik penguasa, sehingga kurikulum pengajaran sejarahnya pun banyak diarahkan kepada kepentingan kekuasaan dengan menghilangkan peran-peran besar umat Islam.

Kenyataan sejarah memang masih terasa pahit bagi umat Islam. Di saat pejuang-pejuang Islam menggerakkan kekuatan, mengobarkan semangat bangsa dan menguatkan tekad untuk berkorban menghadapi tiranisme dan kolonialisme hingga mampu menumbangkannya. Umat Islam telah bersusah payah menanam, tetapi orang-orang sekuler-lah yang menuai hasilnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Yusuf Qardhawi di dalam bukunya Umat Islam Menyongsong Abad Ke-21 ada sebuah sub-babnya yang ia beri nama, “Aktifis Islam menanam, Orang sekuler menuai”. Dalam tulisan tersebut Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa itulah fakta yang terjadi di seluruh Negara-negara Islam sepanjang abad 20 dan mengawali abad ke-21. Beliau mencontohkan Turki yang merupakan Negara pertama yang diperintah oleh sekulersime dan dikuasai oleh orang-orang sekuler, pada waktu itu bangsa Turki berperang dengan semangat Islam melawan musuh Allah, agama dan negaranya. Mereka mengira bahwa Mustafa Kamal Attaturk yang kemudian menjadi pemimpin Turki berperang demi Islam,  bahkan kaum muslimin di seluruh dunia pun mengira seperti itu dengan menjulukinya sebagai Al-Ghazi (Sang Pejuang). Tetapi dugaan mereka salah setelah terbuka kedok Attaturk yang membawa ide sekulerisme dan memberangus syariat Islam.

Hal serupa terjadi di Indonesia. Kita tahu bahwa Mustafa Kamal Attaturk adalah seorang pengkhianat besar yang telah meruntuhkan sendi politik Islam Kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924, pada saat itu tumbanglah kekuatan politik Islam dan berganti dengan rezim sekulerisme. Dan ternyata, Attaturk itu yang kemudian diidolakan oleh presiden pertama kita bernama Soekarno. Berapa banyak perjuangan umat Islam yang telah dikhianati oleh Soekarno dengan ide sekulerismenya yang sampai hari ini subur di bumi nusantara. Di saat para Founding Father kita memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara di Parlemen, sehingga membuahkan hasil tujuh kata di dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang berbunyi, “…dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, yang telah disepakati oleh BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945,  Piagam Jakarta inilah sebetulnya mukaddimah UUD ’45 yang pertama. Kemudian tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jum’at dan bulan Ramadhan, Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa yang merdeka. Pengkhianatan besar pun dimulai. Pada keesokan harinya, 18 Agustus 1945, tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang telah disepakati dirubah secara sepihak. Kata-kata “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dirubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Peristiwa inilah yang menorehkan luka mendalam bagi umat Islam.

Di pinggiran peradaban

Selanjutnya umat Islam Indonesiahanya menjadi mayoritas yang sering tertindas. Sekularisme telah menempatkan Islam di pinggiran peradaban, di sudut-sudut mihrab masjid, hanya menjadi konsumsi umat Islam secara pribadi dan tak lagi merambah dalam kehidupan sosial dan politik. Umat Islam ideologis yang memiliki idealisme memperbaiki bobroknya sistem kenegaraan dengan syariat Islam yang memiliki ciri khas Kaffah dan Rahmatan lil ‘Alamin dianggap sebagai bagian dari terorisme yang harus diberangus. Hal itu dapat kita lihat dengan adanya program besar-besaran melawan terorisme. Dibentuknya Detasemen Khusus 88 (Densus 88) tahun 2004 yang merupakan pasukan elit Mabes Polri, sering melakukan tindakan-tindakan refresif terhadap umat Islam. Disusul pula dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) tahun 2010 dengan anggaran yang besar melalui APBN (uang rakyat), untuk tahun 2012 saja direncanakan melalui keputusan Komisi III-DPR RI BNPT mendapat porsi yang cukup besar. Untuk program pencegahan dijatah dana Rp 40 M, Untuk operasi deradikalisasi dijatah Rp 12,5 M, Sedangkan untuk operasi penindakan Rp 40 M dan kerjasama internasional Rp 10 M. Ditambah dengan anggaran rutin untuk pegawai, belanja peralatan, kendaraan operasional dan sebagainya, total BNPT mendapat dana sebesar Rp 476,6 Miliar. Menurut BNPT bahwa arus terorisme umat Islam harus dibendung melalui pembenahan akar pemahamannya tentang Jihad dan Islam. Pada intinya, aktifitas yang dilakukan BNPT adalah untuk membendung arus gerak umat Islam yang ingin menegakkan ajaran-Nya secara Kaffah dengan dalih terorisme.

Umat Islam tak lagi mampu melakukan peran politiknya sebagaimana tujuan dari Siyasah Islam adalah Hirosatud Diin wa Siyasatid Dunya bid Diin (menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama). Meski mayoritas, umat Islam belum berhasil menuntut pembubaran Ahmadiyah yang sudah jelas penodaannya terhadap ajaran Islam. Saat Umat Islam melakukan tindakan riil untuk mengurangi kemaksiatan di negeri ini dianggap sebagai sebuah tindakan melanggar HAM. Situasi Indonesia hingga saat ini dengan nyata telah membuktikan bahwa umat Islam masih berada di pinggiran peradaban dan selalu menjadi mayoritas yang tertindas, karena sebenarnya yang berkuasa di negeri ini adalah kaum minoritas, baik itu Etnis Cina (ekonomi), Kristen dan Katolik (politik dan media massa) atau pro Ahmadiyah (agama). Akan tetapi, masyarakatIndonesia banyak terkecoh dengan sebuah slogan melindungi kaum minoritas, padahal kaum minoritas sendiri yang sebenarnya menindas.

Di sisi lain, umat Islam sendiri harus melakukan evaluasi dan introspeksi diri, mengapa selalu menjadi mayoritas yang lemah. Gambaran Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya begitu telak kita saksikan hari ini, yaitu bahwa umat Islam akan seperti suatu hidangan yang diperebutkan, bagaikan buih di lautan, banyak tetapi tidak memiliki kekuatan karena sudah mengidap penyakit cinta dunia dan takut mati (wahn). Umat Islam sudah tidak lagi memiliki izzah (kebanggaan) terhadap Islam itu sendiri, tetapi telah silau dengan peradaban Barat tanpa ada tekad untuk meninggikan peradabannya sebagai warisan dari kejayaan umat Islam terdahulu. Sering terjerbak di dalam jerat-jerat makar kaum Kuffar yang tak menginginkan kebangkitan Islam, sehingga perpecahan di antara kaum muslimin pun tak dapat terelakkan lagi.

Melanjutkan amanah kemerdekaan

Perjuangan umat Islam dalam memerdekakanIndonesiadari penjajahan kaum Kuffar, tentu adalah sebuah amanah kemerdekaan yang mesti kita lanjutkan. Peran pemuda atau mahasiswa sudah tidak diragukan lagi dalam kancah sejarah, dengan segala potensi dan kumpulan semangat yang dimiliki, mereka layak menjadi penggerak sebuah perubahan. Maka, kitalah pahlawan penerus perjuangan tumpuan harapan bangsa itu, sebagai generasi terbaik pembawa misi suci risalah Islam, di saat nasib bangsa kita  mengalami penjajahan gaya baru, yaitu penjajahan pemikiran, moral, ekonomi dan politik, yang membuat Indonesia terbawa ke posisi pejabat terkorup dan rakyat buruh.

Yang mesti dilakukan pertama kali adalah pembebasan dari penghambaan kepada selain Allah, karena itulah titik tolak sebuah kebangkitan. Penghayatan syahadat Laa ilaaha illallah adalah sebuah reformasi besar dalam diri manusia yang dapat membersihkan hati dari keyakinan-keyakinan keliru (syirik), mengembalikan semua niat, cita-cita, kekuatan, pertolongan, pengagungan dan kedaulatan hanya kepada Allah semata. Artinya, dalam tataran ini bagaimana aqidah Islam mengharuskan seseorang meninggalkan pengagungannya terhadap berbagai hukum, paham dan sistem kehidupan yang bukan syariat Allah dan bertentangan dengannya. Setelah kita mampu membebaskan diri dari “penjajahan thagut” ini, maka barulah kita akan mampu melepaskan diri dari penjajahan-penjajahan lainnya.

Aspek kekuatan iman yang dibangun pertama kali, akan secara pasti membebaskan orang dari ketergantungan kepada sesama makhluk. Hidup dan matinya hanya untuk Allah. Tidak ada lagi ketergantungan kepada materi, ketergantungan kepada orang-orang kaya dan adidaya, ketergantungan kepada Negara-negara kuat dan para kolonial asing yang menancapkan kuku-kukunya di berbagai daerah di bumi Indonesia, maka hilanglah rasa takut dan muncullah keberanian karena rasa takutnya telah berpusat kepada satu titik yaitu takut akan murka Allah. Tak lagi berharap kekayaan dan kesenangan dunia yang didapat dengan semena-mena dan sikap pragmatisme karena ia yakin apa yang disisi Allah adalah lebih baik. Maka muncullah tekad yang kuat untuk berjuang dan berkorban mengawal perubahan dari keterpurukan di negeri kita tercinta ini.

Para mahasiswa aktifis kampus ataupun para pemuda yang sedang bergelut dalam kancah wacana intelektual dan keilmuan serta bersikap responsif terhadap dinamika sosial dan politik, hendaklah menumbuhkan semangat juang yang dilandasi keimanan. Melakukan apa yang dapat dilakukan dengan sumber daya dan pemberdayaan potensi sebagai sebuah progresivitas gerakan. Menjadi seorang yang idealis tentu harus pula menjadikan kita realistis. Jika ada “gap” diantara keduanya maka harus segera dilakukan penyesuaian. Karena jika menjadi idealis tapi tidak realistis, ia hanya menjadi seorang pemimpi. Sebaliknya, jika realistis tapi tidak idealis, ia akan selalu kehilangan orientasi dan cenderung menyerah pada kenyataan.

Akhirnya, layak bagi kita untuk merenungkan sebuah pesan perjuangan dari seorang Jenderal Soedirman ketika melakukan operasi gerakan gerilya rakyat dan mengobarkan semangat perjuangan. Pada saat itu, ia menyebarkan sebuah pamflet yang berisi sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa mati sementara dia tidak pernah berperang dan tidak terbersit di dalam dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.”

Wallahu A’lam 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s