Oh dunia, Aku lelah mengejarmu

Tak seberapa lama saat pertama kali kumenengadahkan badan di hamparan kehidupan yang bernama dunia, hingga kini usia yang semakin mematang bak mentari yang berfijar di tengah seantero langit semesta. Kucuran keringat, helatan pikiran, bara hati yang terus berkobar, dalam sekat-sekat ruang ambisi dunia yang bergemerlapan melambungkan angan, telah membuat langkah menjadi lelah, menjerat pikiran dalam kebingungan, memenjarakan diri yang terkapar dalam keterlantaran.

Sungguh, lelah kumenegejarmu oh dunia. Hendak kemana lagi aku mencarimu? Sementara langkah yang melelah dalam balutan hari-hari yang terus bergulir menggenapkan bulan dan tahun, belum juga menemukan akhir yang menentramkan jiwa.

Yakinkanlah, kelelahan diri yang berpendar ini bukanlah ekspresi dari sebuah keputusasaan, akan tetapi ia merupakan hakikat yang mengalir dalam garis kepastian Sunnatullah. Ia menjelaskan bahwa dunia yang kita singgahi ini jika bertemu dengan ambisi yang lahir dari hawa nafsu diri, akan melahirkan kegersangan batin. Semua manusia memang sadar, yang dia kejar adalah kebahagiaan. Namun, mengejar kebahagiaan bukan berarti mengejar dunia. Karena ternyata dunia ini semakin dikejar malah semakin menjauh. Begitupun, hawa nafsu kita bagaikan air laut, semakin diminum justeru semakin menambah haus.

Mengejar satu demi satu kumpulan angan kita adalah menapaki keinginan yang tak pernah selesai, ibarat menyusuri belantara hutan yang tak pernah ada ujungnya dan mengarungi lautan yang luas tak bertepi. Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang memuaskan.

Bukan berarti tidak boleh bercita-cita tinggi. Tetapi jangan sampai cita-cita itu hanya menjadi angan-angan kosong yang melelahkan diri kita. Oleh karena itu, kita harus meletakkan cita-cita itu di atas dasar ketercapaiannya. Dasar ketercapaian cita-cita itu bukan ada pada kebendaan yang kita capai, justeru ada di dalam diri kita sendiri. Kebahagiaan yang kita kejar di dunia ini, bukan ada pada dunia itu sendiri, tetapi ada pada Dzat di balik dunia ini, Sang Pencipta kehidupan ini, Allah Azza Wa Jalla.

Tundukkanlah hati dan pikiran kita kepada Dzat yang menciptakan diri kita beserta kebahagiaannya yang Dia sendiri yang akan memberikan kebahagiaan itu. Kembalilah kepada hati nurani yang merindukan cahaya Ilahi, maka pada saat itulah cita-cita kita akan menembus dunia dan sampai pada kehidupan abadi yang belum nyata dalam pandangan kita. Maka wajar jika dikatakan bahwa kebahagiaan itu ada pada saat kita mengingat Allah dan merindukan surga-Nya yang merupakan kehidupan yang memuaskan (‘Isyatin Rhodiyah).

“Dan carilah (pahala) negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qosos : 77).

Berusahalah di dunia untuk mendapat untung di Akhirat.

Ya Allah, letakkanlah dunia ini di tanganku, jangan Engkau ketakkan di hatiku. Aamin Ya Rabb.

Jakarta, 02 Novemper 2011

Yang merindu cinta-Nya,

Muhammad Atim


2 thoughts on “Oh dunia, Aku lelah mengejarmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s