HUTANG BARAT TERHADAP PERADABAN ISLAM

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

(Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam)

Ketika peradaban Barat muncul dengan dada membusung di penghujung abad saat umat Islam terhuyung diterjang kemunduran akibat perpecahan, dengan sangat bangga mereka katakan bahwa mereka mendapatkannya setelah melakukan renaissance (renaisan). Bila kata ini dipadankan dengan bahasa Inggris, maka ia berarti re-birth (kelahiran kembali). Kelahiran kembali yang dimaksud adalah hidupnya lagi peradaban Yunani dan Romawi Kuno yang amat membanggakan mereka.

Dalam berbagai buku sejarah meraka gembar-gemborkan bahwa mereka menemukan kembali peradaban lama mereka yang sebetulnya sudah luluh lantak seribu tahun sebelumnya ditelan kegelapan sejarah Gereja. Peradaban itu mereka bangun kembali dengan semangat dan kreativitas baru. Jadilah kemudian apa yang disebut “peradaban modern” muncul setelah sebelumnya melalui tahap-tahap pencerahan dan berbagai revolusi. Mereka katakan dengan yakin bahwa semua yang tidak ikut dengan kemodernan adalah orang-orang “terbelakang” dan “tidak berperadaban”.

Negeri-negeri Islam yang memang tengah berada pada titik anti-klimaks perdabannya termasuk yang dihina dan dinistakan sebagai negeri-negeri terbelakang. Lihat saja bagaimana simbol terakhir kebanggaan negeri Muslim di seluruh dunia, kekhalifahan Turki Usmani, diejek dengan sebutan The Sick Man in Europa (Orang Sakit di Eropa). Betapa ingin mereka katakan bahwa umat Islam sudah tidak pantas lagi dihargai. Umat Islam sudah kolot dan sakit-sakitan. Tidak ada guna lagi mengikuti orang sakit. Tinggalkan saja dia. Ikuti saja Barat yang sedang beranjak remaja; penuh harapan gemilang dan bertenaga.

Mereka tunjukkan pada orang-orang apa yang membuat mereka bangga: ilmu pengetahuan (sains). Mereka tunjukkan melalui buku-buku sejarah yang mereka tulis bahwa sains yang mereka lahirkan adalah semata hasil kreativitas mereka setelah menemukan peradaban Yunani dan Romawi yang sempat hilang ditelan Gereja. Suatu proses sejarah yang “ajaib”. Mereka sendiri menyebutnya dengan bangga sebagai “penyimpangan” sejarah. Saat umumnya orang-orang di Eropa tengah diharu-biru keangkuhan sejarah Gereja, mereka temukan mutiara yang hilang itu hingga sejarah mereka disimpangkan dari yang seharusnya ikut larut dalam Gereja. Para pemikir dan ilmuwan merekalah yang menemukan kembali peradaban Yunani dan Romawi Kuno. Ranaisance mereka sebut!

Kesimpulan sejarah seperti itu terus mereka ajarkan ke anak cucu mereka untuk menanamkan ideologi bahwa “Barat” adalah “Barat” yang punya watak sendiri. Barat bukanlah Kristen atau Yahudi yang harus segera dipenjara di bilik-bilik Gereja dan Sinagog. Sekularisme menjadi dalil untuk memenjarakan agama. Mereka ingin katakana bahwa Barat adalah “manusia-kreatif-mandiri” yang bisa menyelesaikan sendiri urusannya. Sains Barat yang sejak abad ke-20 sudah memperlihatkan kemajuannya menjadi dalil paling sahih untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka benar. Sains itu yang diklaim oleh mereka sebagai kemajuan yang semata adalah milik mereka, ciptaan mereka, kreativitas mereka, bukan hutang dari siapapun. Kalaupun mereka harus disebut “menemukan”, justru mereka menemukannya dalam kebudayaan mereka sendiri di Yunani dan Romawi Kuno. Renaisance mereka sebut!

Namun amat mengherakan bila ditanyakan, apa sebab mereka bisa bertemu dengan tradisi peradaban Yunani dan Romawi? Bukankan peradaban itu sudah sedemikian lama hilang? Seribu tahun bukan waktu terlalu sedikit untuk bisa menenggelamkan Yunani dan Romawi Kuno ke dalam tong sampah sejarah paling dalam. Agak mustahil mereka bisa menemukannya sendiri di dalam tumpukan sampah sejarah Gereja yang berserakan dan bertumpuk menggunung menutupi kegemilangan Yunani dan Romawi. Mereka sendiri dipaksa untuk hanya melihat Gereja. Lainnya tidak diperkenankan. Apatah lagi mengais-ngais mencari sisa-sisa tumpukan sejarah peradaban Yunani dan Romawi Kuno.

Logika sejarah tidak memberikan izin bahwa mereka bisa menemukannya begitu saja tanpa sebab yang masuk akal. Sejarah bukan sulap bukan pula sihir yang dalam sekejap bisa berubah hanya dengan menyebut sim salabim abrakadabra! Sejarah adalah logika kemanusiaan yang hanya bisa dipahami sebagaimana pengalaman hidup manusia menunjukkannya. Kalaupun ada fenomena “nabi” yang hebat dan luar biasa, logika sejarah akan mengatakannya bahwa dia bukan manusia biasa. Mukjizat adalah argumentasi tak terbantahkan atas ke-“luarbiasa”-annya. Mukjizat adalah logika Ilahi untuk menghentikan kesombongan pengembaraan logika sejarah manusia.

Sadar bahwa mereka tidak bisa berbohong di depan logika sejarah, maka segera mereka buat drama baru sejarah sains Barat. Mereka akui bahwa sesungguhnya saat Gereja sangat hegemonik mereka justru belajar sains kepada orang-orang Islam. Sejarah tak dapat berbohong bahwa saat Eropa memasuki zaman yang mereka ejek sendiri dengan sebutan The Dark Age (Abad Kegelapan), umat Islam tengah berada di puncak peradabannya. Pusat-pusat peradaban Islam saat itu seperti Baghdad, Mesir, Andalusia, Damaskus, Turki, dan lainnya tidak bisa disembunyikan dari etalase sejarah. Terlalu bodoh untuk mengatakan kepada orang-orang yang matanya masih sehat bahwa semua itu tidak ada.

Siapa yang bisa menyangkal keberadaan Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averrous), Al-Razi (Razes), Ibnu Battuta (Al-Batros), dan lainnya yang dikenal baik dalam literature-literatur para tokoh Renaisance dan Aufklarung. Ilmuwan-ilmuwan Muslim kelas satu itu menjadi rujukan utama orang-orang Barat mengembangkan sains yang mereka klaim warisan dari Yunani dan Romawi Kuno itu. Ratusan literatur sejarah sudah banyak menunjukkan bagaimana karya-karya para ilmuwan Muslim ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bahasa Eropa yang hidup saat itu. Mereka sendiri yang menerjemahkannya untuk kemudian diajarkan kepada anak-anak Eropa yang sudah mulai terkena racun anti-Gereja.

Oleh sebab yang demikian sulit disangkal, dengan sangat cerdas dan licik mereka putar haluan cerita sejarah tetap ke arah mereka. Mereka katakan bahwa yang mereka ambil dari sarjana dan saintis Muslim itu adalah milik mereka. Sarjana-sarjana Muslim itu dapat mengembangkan berbagai jenis ilmu pengetahuan juga karena Barat. Sebagai bukti mereka tunjukkan bagaimana Khalifah Al-Makmun dari Dinasti Abbasiyah begitu senang menerjemahkan karya-karya filosof Yunani seperti Aristoteles dan Plato ke dalam bahasa Arab. Ia sampai berikan bayaran sangat mahal kepada siapa saja yang mau melakukannya. Konon katanya seberapa berat kertas yang digunakan untuk menerjemahkan karya-karya Yunani akan diganti dengan emas dengan berat yang sama.

Bukti semacam ini yang selalu mereka gadang untuk menunjukkan bahwa Islam sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Umat Islam dapat maju karena mereka membaca karya-karya orang Barat. Seandainya tidak ada Barat, tidak ada peradaban Baghdad dan Andalus yang amat dibanggakan umat Islam. Jadi, kalaupun mereka belajar dari orang Islam dengan menerjemahkan sejumlah karya ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Al-Qânûn fi Al-Thibb-nya Ibnu Sina menjadi The Canon, mereka sesungguhnya hanya mengambil kembali hak mereka yang terampas oleh umat Islam.

Sungguh amat cantik mereka belokkan sejarah sampai-sampai tidak sedikit umat Islam yang percaya pada bualan manis mereka. Padahal logika sejarah segera kembali menghadang bila ditanya siapa, kapan, dan di mana Al-Makmun hidup? Kalau semua sepakat bahwa peradaban Islam menncapai puncaknya pada periode-periode pertama Kekhalifahan Abbasiyah, berarti Al-Makmun hidup pada masa peradaban Islam sedang berada di puncaknya. Sains Islam pun bukan barang yang baru berkembang. Sains Islam sudah juga sampai pada level yang tinggi tidak ada bandingnya di negeri lain.

Kalau memang akibat penerjemahan yang dilakukan semasa Al-Makmun menjadi sebab peradaban Islam sampai pada puncaknya, kenapa masa pertumbuhan peradaban Islam dari periode penerjemahan sampai periode keemasan kurang dari satu abad saja? Sungguh mengherankan. Tidak ada di dunia ini satu peradaban pun yang tumbuh dari nol sampai masa keemasannya hanya dalam masa kurang dari satu abad. Lagi pula saat itu sudah berdiri lembaga riset dan pengkajian ilmu tingkat tinggi seperti Perpustakaan Baitul-Hikmah yang amat terkenal. Bagaimana mungkin tiba-tiba berdiri suatu lembaga tinggi ilmu pengetahuan, riset dan pengajaran, hanya dalam waktu sinngkat. Bukankah perguruan tinggi adalah level akhir dari lembaga riset dan pendidikan? Bila itu ada pada level tertinggi, berarti di bawahnya sudah banyak. Berapa lama lembaga-lembaga dibawahnya bisa dibangun secara massif? Cukupkah dalam waktu kurang dari satu abad? Belum lagi ditambah mempersiapkan perangkat-perangkat riset pada tingkat yang sangat tinggi. Cukupkah dalam waktu yang sedemikian singkat?

Peradaban di manapun memerlukan waktu yang panjang dan lama untuk diasaskan dan ditumbuh-kembangkan. Rasa-rasanya terlalu mengada-ada hanya gara-gara Al-Makmun gemar menerjemahkan karya-karya filosof Yunani kemudian tiba-tiba umat Islam menjadi hebat. Pada etalase sejarah yang mereka pamerkan lupa ditulis bahwa jiwa kecintaan pada ilmu telah ditubuhkan dalam urat nadi segenap kaum Muslim sejak ayat pertama Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. di Gua Hira. Melalui Jibril Allah Swt. perintahkan dengan tegas, Iqra! Bacalah! Jiwa itu ditunjukkan salah satunya manakala Rasulullah Saw. memutuskan kasus tawanan Perang Badar. Rasulullah Saw. justru memilih tebusan tawanan itu bukan uang atau benda apapun, melainkan “mengajar anak-anak Muslim” apa saja yang mereka bisa. Itu hanya satu kasus. Kalau dirunutkan lagi, satu buku tebal belum tentu cukup untuk menunjukkan bagaimana kecintaan umat Islam terhadap ilmu sejak masa awal Islam.

Al-Makmun hanya serpihan kecil. Penerjemahan karya-karya Yunani hanya konsekwensi dari semangat yang menggebu dari kaum Muslim untuk menemukan berbagai ilmu pengetahuan. Bahwa penerjemahan itu ada pengaruhnya, pasti tidak bisa dimungkiri. Akan tetapi, untuk menyebutnya sebagai jiwa dari peradaban Islam kelihatannya terlalu naïf dan mengada-ada. Jiwa peradaban Islam itu sendiri adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi-Nya yang memang telah declair menyatakan bahwa Islam adalah agama Ilmu. Masyarakat yang tidak menerima Islam disebut sebaga masyarakat jâhil (tidak berilmu) alias bodoh alias jâhiliyyah. Barangkali ada benarnya sebuah hadis yang lemah mengatakan, Agama seseorang adalah akalnya; dan siapa yang tidak menggunakan akalnya, tidak aka nada agama pada dirinya. (Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jâmi’ Al-Shaghir Jil. 3 hal. 715 nmr hadis 4242). Wallâhu A’lam

 Kembangan Singapore, 17 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s