Ulul Albab: Kesadaran Intelektual menuju Kebangkitan Umat

“Orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu berkata: “Aku beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Rabb kami. Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran selain Ulul Albab.” Ali Imran : 7

Muara Kebangkitan Umat

Untuk membangkitkan suatu umat atau sebuah peradaban menuju kejayaan maka yang terlebih dahulu mesti digugah adalah kesadaran intelektualnya. Inilah yang menjadi hikmah bahwa wahyu Ilahi yang akan diemban sebagai amanah risalah oleh Rasulullah saw diawali dengan sebuah ayat yang mengharuskan dirinya untuk membuka cakrawala pikiran dan melakukan kerja intelektual, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” Al-Alaq : 1

Dalam mengemban amanah risalah yang suci itu, Rasulullah saw hadir di tengah-tengah umat sebagai penerang bagi gelapnya kejahiliyahan, menyelamatkan manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju Tauhid, penyembahan kepada Sang Khaliq semata. Suasana kejahiliyahan saat itu disebabkan karena mereka tidak menggunakan akal sehat dalam memilih Tuhan. Oleh karena itu, Al-Qur’an seringkali dalam menanamkan Aqidah kepada umat, menggugah kesadaran akal mereka terlebih dahulu. Ini membuktikan bahwa untuk mencapai sebuah keyakinan yang benar maka mesti dengan pemahaman yang benar dan pemahaman yang benar itu dicapai melalui proses intelektual. Dalam hal ini misalkan Allah SWT menyebutkan bagaimana Nabi Ibrahim as menjelaskan kepada umatnya sebuah proses intelektual dalam mencari tuhan hingga sampai pada titik Tauhid.

“Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, apakah engkau menjadikan patung-patung sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Demikian juga kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi supaya dia menjadi orang yang yakin. Maka di saat malam menutupinya ia melihat planet, ia berkata: inilah tuhanku! Lalu di saat planet itu menghilang, ia berkata: Aku tidak menyukai yang menghilang. Ketika ia melihat bulan nampak, ia berkata: inilah tuhanku! Ketika ia menghilang ia berkata: sesungguhnya jika tuhanku tidak memberiku petunjuk niscaya aku benar-benar termasuk kaum yang sesat. Di saat ia melihat matahari nampak ia berkata: inilah tuhanku, ini lebih besar! Maka saat ia menghilang, Ibrahim berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku dengan lurus kepada Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang musyrik.” Al-An’am : 74-79

Dalam memberantas kemusyrikan dan mengantarkan umat kepada Tauhid, di masa-masa awal risalah Rasulullah saw tidak langsung mengajak sahabat-sahabatnya yang telah masuk Islam untuk langsung menghacurkan patung-patung berhala yang memenuhi Ka’bah, karena kalau soal menghancurkan barangkali orang-orang kafir Quraisy saat itu dengan mudah akan membangunnya kembali. Akan tetapi yang beliau lakukan dalam masa yang cukup panjang adalah senantiasa berdakwah dan membina umat untuk memahamkan mereka tentang hakikat ketuhanan. Sehingga melalui penanaman-penanaman kesadaran intelektual seperti itu, maka ketauhidan dan keimanan umat akan terbentuk dengan kokoh dan dengan sendirinya mereka akan menyingkirkan kemusyrikan tersebut. Ini terbukti bahwa di saat Fathu Makkah, bukan tangan Rasulullah saw sendiri yang menghancurkan patung-patung berhala itu, akan tetapi dihancurkan oleh orang-orang yang baru masuk Islam karena pada akhirnya mereka telah sampai kepada kesadaran.

Lihat pula, bagaimana sejarah telah membuktikan bahwa tampilnya seorang pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil membebaskan kembali Al-Aqsha pada tahun 1187 yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan salib selama 88 tahun, tidak muncul secara tiba-tiba atau “turun dari langit” sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Majid Irsan Al-Kilani dalam Bukunya “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib”. Menurut beliau, bahwa Shalahuddin adalah produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam Al-Ghazali dan Abdul Qadir Al-Jilani.

Menurut Dr. Majid Irsan Al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, Al-Ghazali lebih memfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, Al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh. Menurut Al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum muslim yang berkaitan dengan akidah dan kemasyarakatan. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer. Tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak dan perubahan diri manusia itu sendiri. Tahap kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pemahaman yang salah dan amal yang salah pula.      

Uraian di atas adalah di antara bukti bahwa impian kejayaan umat harus dibangun dengan tradisi intelektual dan tradisi ilmu. Oleh karena itu, lahirnya HIMA Persis dengan konsep Ulul Albab yang dijadikan sebagai asas perjuangan dan trias politikanya, harus berangkat dari semangat menuju kebangkitan umat, di mana umat saat ini sedang dalam keadaan terpuruk yang tak jauh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, yang dengan mudahnya kekuatan mereka diruntuhkan oleh penguasa-penguasa zalim. Sehingga dengan semangat generasi Ulul Albab tersebut, satu persatu permasalahan umat dapat terselesaikan.

 

Ciri Khas Intelektual Ulul Albab

Ulul Albab menurut pengertiannya adalah orang-orang yang memiliki akal sehat atau orang-orang yang memiliki pemikiran yang mendalam. Namun permasalahannya, intelektual seperti apakah yang dimiliki oleh Ulul Albab itu? Tentu saja dalam hal ini kita perlu kembali kepada Al-Qur’an, bagaimana sebenarnya Allah SWT mensifati Ulul Albab itu. Karena kalau tidak, bisa jadi kita salah memahami Ulul Albab karena hanya berpatokan kepada definisi kebahasaan, seperti jika ada yang memahaminya dengan makna orang-orang yang menggunakan akal namun secara bebas tanpa kendali.

Berikut ini adalah beberapa kriteria Ulul Albab dengan kekhasan intelektual yang dimilikinya sebagaimana dalam Surat Ali Imran 190-194 yang layak untuk kita tadaburi. Sekali lagi, bahwa Ulul Albab yang sering dipuji oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bukan hanya dalam arti orang-orang yang berakal, karena semua manusia waras pasti diberikan akal, akan tetapi ciri khas itu sendiri yang membedakan dengan yang lainnya.

a. Intelektual yang tunduk pada kebesaran Allah

Inilah ciri khas utama yang dimiliki oleh Ulul Albab. Sebagaimana yang Allah terangkan dalam ayat berikut ini, bahwa sifat pertama mereka adalah berdzikir kepada Allah di setiap saat.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi Ulul Albab. (yaitu) orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring…” (Ali Imran: 190-191)

Dzikir diartikan mengingat dan menyebut. Ini menunjukkan bahwa Ulul Albab adalah orang-orang yang melakukan aktifitas intelektual dengan tujuan supaya menambah keimanan sehingga tidak ada sebuah aktifitas akal itu dilakukan kecuali membuahkan hasil menjadikan dirinya semakin dekat kepada Allah. Karena untuk fungsi itulah sebenarnya akal manusia diciptakan.

Hal inilah yang sering luput dari para ilmuwan yang terus-menerus menggunakan akalnya dalam mencari penemuan-penemuan ilmiah akan tetapi tidak kunjung menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang hakiki. Hal ini bisa kita lihat dari peradaban Barat yang dengan megahnya dibangun melalui penemuan-penemuan ilmiah dan kecanggihan teknologi tetapi hampa makna, kering dari nilai-nilai spiritual. Karena memang tidak bisa dipungkiri, merupakan suatu fitrah bahwa akal itu akan menemukan kepuasan yang hakiki jika sampai di muara keimanan. Barangkali dibutuhkan penelaahan sejarah lebih jauh bagi kita untuk mengetahui, bahwa ternyata banyak para pengikir yang tidak sampai kepada muara keimanan, hidupnya tidak berakhir dengan kebahagiaan.

Berbeda dengan Ulul Albab, mereka adalah para ilmuan dan pemikir yang selalu meneliti, mentafakuri dan mentadaburi alam semesta dengan segala keindahan dan keunikannya. Di saat mereka menemukan penemuan-penemuan ilmiah yang baru, pada saat itu pula mereka semakin menyadari bukti-bukti kebenaran wahyu Ilahi, karena dia adalah sumber kebenaran dan sumber ilmu pengetahuan. Maka ketika itulah akal mereka tunduk pada kebesaran Allah, semakian takut kepada Allah. Inilah makna bahwa orang yang paling takut kepada Allah adalah orang yang berilmu, “Innamaa yahsyallaha min ‘ibaadihi al-ulama”.

Bagaimana misalnya saat Allah Azza wa Jalla menjelaskan hakikat alam semesta dalam surat Ar-Rahman, diantaranya bahwa alam semesta diciptakan dengan keseimbangan, bumi yang bulat dijadikan membentang untuk kehidupan makhluk-Nya, ada dua laut yang tidak bisa bertemu karena terdapat penghalang, dan hakikat fenomena alam lainnya yang dengan semakin majunya sains dan teknologi dapat dibuktikan satu persatu. Allah SWT dalam surat itu mengulang sebanyak 31 kali suatu kalimat, Fabiayyi Aalaai Rabbikumaa tukadz-dzibaan? (Maka ni’mat-ni’mat Rabb kalian yang mana lagi yang akan kalian dustakan?) yang seharusnya membuat tunduk akal para ilmuwan saat menyadari kebenaran wahyu Ilahi tersebut.

Ketundukan akal Ulul Albab pada kebesaran Allah SWT pada akhirnya akan menjadikan mereka sebagai tentara Allah yang senantiasa siap dan bersegera menjalankan komando dari Allah baik berupa perintah maupun larangan. Hal ini pula yang dijelaskan dalam ayat Ulul Albab tersebut, bahwa mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, “Berimanlah kamu kepada Tuhan kamu, maka kami pun beriman.” Huruf “Fa” dalam lafadz “Fa-aamannaa” bermakna “langsung”. Artinya, dalam hal keimanan dan melaksanakan tuntutan keimanan, Ulul Albab tidak lagi memberikan ruang pada akal mereka untuk mencari-cari argumentasi dan memutar-mutar logika sehingga menjadi lalai. Akan tetapi ia langsung dan bersegera menyambut panggilan iman tersebut, sebagaimana dijelaskan pula dalam ayat berikut :

“Dan tidaklah pantas bagi mu’min dan mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, aka nada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” Al-Ahzab : 36

b. Selalu mengkaji sebelum bertindak

“Dan mereka senantiasa bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi.” Ali Imran: 191

Artinya, generasi Ulul Albab adalah orang-orang yang tidak kenal kata henti untuk terus melakukan kajian, baik kajian-kajian ilmiah ataupun strategi gerakan. Kajian inilah yang menjadi acuan untuk mengambil berbagai keputusan. Mereka senantiasa berpijak di atas ilmu sebelum berkata dan bertindak. Maka, sikap ilmiah seperti inilah yang menjadi ciri khas intelektual Ulul Albab. Sehingga, mereka terlepas dari sikap-sikap spontanitas, tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan sebelum dilakukan pemikiran yang matang, mudah terpengaruh oleh berbagai isu-isu yang berkembang dan propokasi media, utamanya media sekuler. Oleh karena itu, dalam melakukan pergerakannya, HIMA Persis harus senantiasa memiliki banyak waktu untuk mengkaji bersama, menelaah, membaca, diskusi dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya.

Mereka juga tidak memiliki sikap reaksioner yang hanya bisa bertindak jika dipancing oleh pihak-pihak lain. Jika demikian, maka tindakan yang lahir bukan atas dasar kesadaran intelektual, tetapi lebih kepada letupan emosional. Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan sikap-sikap anarkis dan aksi-aksi kekerasan yang tidak dibenarkan. Selain hal itu akan merusak citra Islam sendiri, juga akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dalam menjatuhkan kekuatan kita. Oleh karena itu, tradisi yang mesti diterapkan bukanlah banyak mengasah emosi, tetapi harus senantiasa banyak mengasah intelektual.

c. Mengambil hikmah dari setiap peristiwa

“(mereka berkata) : “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia (tanpa hikmah).” Ali Imran: 191

Dari ayat tersebut, sudah bisa kita pahami bahwa Ulul Albab adalah orang-orang yang tak luput dari hikmah yang mereka ambil dalam menghadapi berbagai peristiwa. Semuanya tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Usaha yang kita lakukan, sukses-gagalnya, yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa kita ambil darinya. Hikmah-hikmah yang kita dapatkan dari berbagai peristiwa dan pengalaman itu menjadi sebuah koleksi pedoman untuk menuju sesuatu yang lebih baik, bukan malah sebaliknya. Sehingga mereka tidak terus-terus terjatuh pada lubang yang sama.

Tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan suatu organisasi tidak bisa lepas dari kekurangan-kekurangan. Maka alangkah memboroskan waktu, tenaga dan pikiran kita, jika hanya mengungkit-ungkit kekurangan dan kesalahan masa lalu baik yang dilakukan oleh kepemimpinan sebelumnya, pihak-pihak lain ataupun yang berasal dari kita sendiri tanpa memberikan solusi yang konkrit.

Maka, generasi Ulul Albab inilah yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran, sebagaimana ayat berikut :

“Orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu berkata: “Aku beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Rabb kami. Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran selain Ulul Albab.” Ali Imran : 7

d. Menyadari kesalahan

“(Mereka berdoa) : “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami…” Ali Imran: 193

Hendaklah kesalahan-kesalahan kita secara cepat dapat kita sadari, bukan malah selalu melakukan pembelaan dengan memperindah argumentasi-argumentasi yang apologis. Sikap seperti ini adalah cara paling baik untuk memperbaiki suatu keadaan. Sehingga, di antara doa yang senantiasa diucapkan oleh Ulul Albab itu adalah memohon ampunan kepada Allah dari berbagai dosa dan kesalahan sebagaimana tercermin dalam ayat di atas.

e. Berjamaah

“….dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti (Abror).” Ali Imran: 193

Dari kutipan yang merupakan lanjutan dari doa Ulul Albab pada point sebelumnya ini, dapat kita pahami adanya makna “kebersamaan”. Kebersamaannya tidak hanya terbatas pada kebutuhan sesaat, tetapi juga sampai pada akhir kehidupan. Bukan berarti dipahami dengan makna “mati bersama”, tetapi hal ini mencerminkan makna “keistiqomahan”, dimana setiap anggota mampu konsisten dalam barisan Haq hingga batas akhir dari kehidupannya. Sehingga, nilai Ukhuwah inilah yang menjadi penopang tegaknya generasi Ulul Albab.

f. Berorientasi ke masa depan

Sikap ini dapat kita ambil dari memahami doa yang senantiasa dipanjatkan oleh generasi Ulul Albab itu,

“…Maha suci Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.” Ali Imran: 191-192

“(Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” Ali Imran: 194

Artinya, mereka senantiasa memiliki semangat idealisme. Idealismenya tidak hanya terbatas kepada sekat-sekat keduniaan yang fana, tetapi mampu menembus ke alam akhirat. Mereka tidak lagi sibuk memikirkan, “keuntungan materi apa yang akan saya dapatkan dari melakukan ini dan itu?”. Meskipun mereka juga sama-sama merupakan manusia bumi yang tidak terlepas dari kebutuhan-kebutuhan dunia, tetapi mereka mengambil bagian dengan sewajarnya. Mereka senantiasa yakin, bahwa yang mereka perjuangkan tidaklah sia-sia di mata Allah. Mereka menjadikannya sebagai Jihad menuju keridhoan Allah, karena di sisi-Nya kebahagiaan yang hakiki itu menanti.

Idealisme seperti inilah yang harus senantiasa melekat pada aktifis Islam sehingga mereka layak dikatakan sebagai Ulul Albab. Khususnya dalam menghadapi berbagai problem umat yang semakin deras. Jangan sampai kita terjatuh pada sikap fragmatisme sesaat yang pada akhirnya menjatuhkan wibawa suatu generasi. Hal ini barangkali bisa kita lihat pada banyak aktifis yang selalu melakukan aksi-aksi demo dengan tujuan untuk meraup keuntungan duniawi dari kepentingan-kepentingan politik. Hal ini sudah cukup menjadikan lemah suatu organisasi bahkan suatu generasi. Kita pun bisa telaah bagaimana saksi sejarah memberi pelajaran kepada kita bahwa kejayaan umat Islam yang telah dibangun selama berabad-abad dapat runtuh dengan mudahnya disebabkan oleh kecintaan para pemimpin dan umatnya terhadap dunia yang berlebihan. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa umat akan dengan mudahnya dihancurkan ibarat makanan yang diperebutkan jika mereka sudah dihinggapi oleh penyakit Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.     

Itulah di antara kriteria Ulul Albab yang dapat dikemukakan setelah mentadaburi ayat-ayat yang terdahulu. Tentu saja diperlukan kajian lebih jauh untuk lebih mengenal siapakah Ulul Albab itu.

Akhirnya, semoga konsep Ulul Albab ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi betul-betul mengejawantah dalam kepribadian para kader HIMA Persis dalam berkiprah dan berperan di kancah pergerakan menuju kejayaan umat khususnya dalam konteks keindonesiaan ini. Hasbunallah wa Ni’mal Wakil Ni’mal Maula wa Ni’man Nashir

Wallahu A’lam bis Showwab

Jakarta, 19 Mei 2011

Makalah untuk mengikuti acara MAKKAH PP. Hima Persis 19-22 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s