Gerakan Menuju Peradaban

Kalau berbicara gerakan –tentunya gerakan islam-, pada intinya adalah sebuah upaya menegakkan Islam yang dimulai dari diri pribadi, keluarga, kemudian meluas kepada masyarakat, negara, dan terakhir yang merupakan cita-cita ideal yaitu terbentuknya pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah). Dalam Khilafah Islamiyah itulah tercipta sebuah peradaban besar, peradaban Islam.

Dalam hal ini tentu peradaban Islam yang dimaksud adalah sebagaimana peradaban yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut Tabi’in. Tak dapat dipungkiri -jika kita mengkaji dengan kejujuran nurani- bahwa sejarah Islam sepanjang perjalanannya telah menggoreskan nilai-nilai peradaban yang luhur. Peradaban yang luhur itu lahir dari sifat agama Islam itu sendiri, yaitu agama yang sempurna. Sebagian orang atau yang termasuk kelompok Islam sendiri ada yang menempatkan Islam dalam perspektif peradaban sama dengan agama-agama lain. Tentu ini merupakan kesalahan fatal, karena walaupun di satu sisi sama-sama merupakan sebuah agama, tetapi jika kita melihatnya dengan akal yang jernih serta kembali kepada keyakinan sebagai muslim tentu tidak bisa disamakan. Din Islam itu memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain, yaitu sifatnya yang sempurna. Ini keyakinan dasar (aqidah) bagi setiap muslim yang tidak bisa ditawar-tawar lagi karena landasannya sudah jelas, Allah SWT berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” AL-MAIDAH : 3

Para ulama mengambil istinbath dari ayat tersebut bahwa Islam memiliki sifat syumuliyah (kesempurnaan). Oleh karena itu, terciptanya karya-karya peradaban besar oleh umat Islam selama berabad-abad lahir dari semangat jiwa yang dipenuhi iman dan pengamalan terhadap tuntunan Islam yang meliputi semua aspek kehidupan. Islam memiliki sistem yang sempurna, mulai dari sistem Akidah, sistem Akhlak, sistem Ibadah, sistem Mu’amalah (sosial), sistem ekonomi, sistem pemerintahan, dan yang lainnya. Termasuk Islam adalah sumber ilmu pengetahuan. Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits banyak sekali ditemukan isyarat-isyarat keilmuan, sehingga oleh kaum muslimin generasi awal dikembangkan sehingga melahirkan peradaban dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun peradaban itu tidak berorientasi kepada materialisme sebagaimana halnya peradaban barat saat ini, akan tetapi lebih berorientasi kepada nilai-nilai spiritual, dalam bahasa yang lebih tegasnya adalah mencari keridhoan Allah SWT.

Untuk menggapai kembali peradaban Islam yang pernah berjaya itu, tentu diperlukan sebuah gerakan yang mengarah kesana. Namun sebelum kita membahas masalah gerakan seperti apa yang bisa kita ambil peran di dalamnya dalam menyongsong peradaban gemilang, mari kita terlebih dahulu menengok ke belakang, menengok kembali sejarah kepemimpinan umat sehingga menjadi cerminan bagi kita.

Menengok Sejarah Kepemimpinan Umat

Sejarah kepemimpinan umat Islam atau umat Nabi Muhammad saw memiliki beberapa periode sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits,

Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendakinya untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit/lalim (Mulkan ‘Adhon), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang diktator (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, kemudian beliau diam.”  (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Masa Khulafaur Rasyidin berlangsung selama 30 tahun, mereka adalah Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Sejak berakhirnya kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib usai sudah era kepemimpinan yang berjalan di atas manhaj (pola) kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), dimana kepemimpinan ditentukan oleh integritas dan kualitas moral individu, bukan karena keturunan atau kekerabatan (dinasti). Setelah itu, meski masih menggunakan istilah Khalifah atau Amirul Mu’minin, sistem kepemimpinan umat bergeser menjadi kerajaan (Mulkan ‘Adhon), dimana suksesi kepemimpinan didasarkan pada hubungan darah dan kekerabatan. Namun demikian, tidak berarti para khalifah atau sultan di era kerajaan itu buruk. Tak sedikit para khalifah atau sultan yang memegang amanat kepemimpinan dengan meneladani Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.

Di kalangan Bani Umayyah ada sosok Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, cicit Umar bin Khattab, Khalifah Rasyidah kedua yang terkenal ketegasan, keadilan dan kesederhanaannya. Sebagaimana kakek buyutnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun terkenal jujur, adil, sederhana dan alim. Dalam masa tiga setengah tahun kepemimpinannya, keadilan, kedamaian, keamanan dan kemakmuran benar-benar dirasakan oleh rakyat. Sedemikian hebatnya kualitas kepemimpinannya, sehingga para ulama kerap menyebutnya sebagai Khalifah Rasyidah yang kelima. Sementara pada masa Dinasti Abbasiyah, tampil pula figur Khalifah Harun Ar-Rasyid, yang sangat dekat dengan ulama dan rakyat. Kebesaran dan keharuman nama khalifah Harun Ar-Rasyid begitu melegenda, sehingga menjadi sosok sentral dalam cerita 1001 malam.

Setelah itu sejarah kepemimpinan Islam juga memunculkan sosok Shalahuddin Al-Ayyubi dari keturunan Bani Seljuk. Shalahuddin terkenal bukan saja lantaran kehebatan dan keberaniaannya dalam perang Sabil melawan pasukan gabungan kafir dari Eropa, tapi juga kesantunan dan humanismenya. Ia melarang pasukannya membunuh musuh yang tertawan, terluka atau menyerah. Bahkan ia mengirinkan tabib untuk mengobati raja Richard, sang musuh yang tengah terluka, sebelum melanjutkan perang kembali. Sedemikian santun dan beradabnya Shalahuddin, sehingga ia dianggap bapak humaniter, aturan hukum yang menegaskan wajibnya memelihara nilai-nilai kemanusiaan, meski dalam keadaan perang sekalipun.

Memang harus diakui, pergeseran sistem Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah ke model dinasti sedikit banyak menimbulkan degradasi kualitas kepemimpinan umat. Utamanya dalam aspek akhlak dan moralitas, seperti merebaknya gaya hidup mewah, berkembangnya korupsi, lemahnya kontrol terhadap kekuasaan dan lain-lain.

Namun, betapapun degradasi moral kepemimpinan terjadi di sana-sini, keberadaan Khilafah Islamiyah dari sejak zaman Bani Umayyah sampai Turki Utsmani, membuat umat Islam masih memiliki jalur komando yang jelas. Di saat Kekhalifahan Turki Utsmani masih berdiri ia merupakan patron dan panutan bagi kerajaan-kerajaan Islam di seluruh penjuru dunia bahkan menjadi salah satu kekuatan besar dunia yang disegani, seperti halnya kedudukan AS atau Inggris saat ini bagi negara-negara barat.

Tapi, sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 M di tangan Musthafa Kemal Attaturk, runtuh sudah simbol kedaulatan Islam dan umat Islam, utamanya dari segi ekonomi, politik dan militer. Ia merubah bentuk pemerintahan dari kekhalifahan menjadi republik dengan ideologi sekulerisme dan nasionalisme yang sempit. Penghancuran Khilafah Islamiyah ini memang sudah direncanakan pada tahun 1909 melalui gerakan politik Al-Ittihad wa At-Taraqqi yang bersifat Nasionalis Sekuler, yang memiliki misi menjauhkan diri dari kesatuan dan persatuan Islam dan Umat Islam, menghancurkan kekhilafahan dunia Islam dan memperjuangkan Turki menjadi Negara sekuler. Di sinilah berlaku sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib ra. “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Pada saat itulah dimulai periode kepemimpinan Mulkan Jabbariyah (kerajaan yang diktator).

Bersamaan dengan berakhirnya kepemimpinan Islam dalam hal ini Kekhalifahan Turki Utsmani, penjajah barat menyuburkan ideologi nasionalisme kepada rakyat jajahannya di negara-negara muslim sehingga dengan ‘pintar’nya mereka memberangus doktrin universalime Islam yang mengikat umat Islam di seluruh penjuru dunia yang berwujud dalam Ukhuwah Islamiyah. Sejarah kemudian mencatat, nasionalisme itu kelak menjadi faktor utama yang membuat Ukhuwah Islamiyah yang tidak mengenal batas teritorial, tidak tersekat oleh bangsa, ras dan etnis menjadi porak poranda. Ikatan persaudaraan Islam itu kemudian hancur dan diganti oleh Nasionalisme yang secara struktural dapat diterima oleh budaya lokal.

Sejak saat itu tak ada lagi kekuatan militer berskala global yang dimiliki oleh umat Islam untuk memelihara dan membela kemuliaan Islam. Ketika kemudian negeri-negeri muslim merdeka dan membentuk tentara nasional masing-masing, tentara itu berada dalam bingkai nasionalisme. Bukan dalam kerangka persaudaraan Islam yang universal. Bahkan sedemikian kuatnya cengkraman nasionalisme tersebut, sehingga tak jarang terjadi baku perang sesama mereka yang sama-sama muslim lantaran membela kepentingan bangsa masing-masing.

Wajar kalau kemudian tentara nasional di negeri-negeri muslim –seperti di Timur Tengah- tak kungjung bisa bersatu melawan musuh bersama sekalipun. Itulah yang terjadi saat terjadi perang Arab – Israel tahun 1948, tak lama setelah negara zionis itu didirikan di tanah Palestina atas prakarsa Inggris dan PBB. Demikian juga halnya dengan lanjutan perang Arab – Israel tahun 1967 dan 1973. Salah satu yang membuat pasukan negara-negara Arab takluk adalah lantaran motivasi perang yang berbeda. Kaum Zionis berperang karena keyakinannya kepada Talmud (kitab suci Yahudi) bahwa Palestina adalah salah satu tanah yang dijanjikan untuk mereka. Sedangkan pasukan Arab berperang karena sentiment kearaban dan kebangsaaan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Mengapa kita kalah di Palestina” menulis, dalam saku tentara Arab yang tewas ditemukan foto-foto artis barat dalam pose menantang, sementara dalam saku tentara Israel ditemukan kutipan Talmud.

Setelah terjadi kehancuran di sana-sini, umat Islam yang masih memiliki idealisme tidak tinggal diam. Maka muncullah Jamaluddin Al-Afgani dengan Pan-Islamismenya yang kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Tampil pula gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan di Mesir oleh Hasan Al-Banna dengan tokoh terkenalnya diantaranya Sayyid Quthb dan Sa’id Hawa. Setidaknya dua gerakan ini yang menginspirasi lahirnya berbagai gerakan Islam di banyak negara, seperti Hamas di Palestina dengan tokohnya Ahmad Yassin dan NIF di Sudan dengan tokohnya Hasan At-Turabi. Gema gerakan pembaharuan Islam itu sampai ke Indonesia sehingga melahirkan gerakan-gerakan Islam. PERSIS adalah salah satu diantaranya, yang lahir tahun 1923 dengan diantara tokohnya yang terkenal adalah Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir.

Tak dapat dipungkiri bahwa sejarah mencatat, Ikhwanul Muslimin misalkan, dengan kegigihan Imam Hasan Al-Banna berhasil membentuk sekitar 10.000 pasukan Ikhwanul Muslimin untuk diterjunkan dalam perang mempertahankan Masjid Al-Aqsha dan Tanah Palestina tahun 1948. Dorongan semangat jihad yang tinggi dan kerinduan akan mati syahid, membuat pasukan Ikhwan berperang gagah berani, sehingga nyaris berhasil mengalahkan tentara Yahudi. Namun, kehebatan pasukan Ikhwan itu ternyata bukan cuma menakutkan pasukan Yahudi dan konco-konconya, tapi juga pemerintah negara-negara Arab. Mereka khawatir keberadaan pasukan Ikhwan itu pada gilirannya justru akan menjadi boomerang bagi kekuasaan mereka. Maklum, moral kepempinan rata-rata penguasa negara-negara Arab itu jauh dari tuntunan Islam. Karena itu mereka berkomplot untuk menghancurkan pasukan Ikhwan itu dengan membokong dari belakang. Maka, pupus sudah potensi militer umat dihantam “kawan” sendiri.

Sejak itu sampai akhir tahun 70-an, umat Islam nyaris tidak punya kesempatan dan peluang membangun kekuatan jihad yang memadai. Sementara pada saat yang sama kekuatan di luar Islam, utamanya barat dan komunis, justru berlomba-lomba memperkuat potensi militernya masing-masing. Maka pasca Perang Dunia II, dunia dikuasai oleh dua blok militer, yakni kekuatan barat yang bergabung dalam NATO dengan AS dan Inggris sebagai pentolannya dan blok timur (komunis) dalam Pakta Warsawa dengan Uni Sovyet sebagai jawaranya. (Keberadaan Pakta Warsawa kemudian hancur menyusul bubarnya Uni Sovyet diawal tahun 1990-an). Di luar keduanya, ada dua kekuatan militer lain –meski pengaruhnya tidak seluas NATO dan Pakta Warsawa- dengan basis jumlah penduduk yang membludak. Yaitu Cina (komunis) yang berpenduduk 1 milyar lebih dan India (Hindu) dengan jumlah penduduknya sekitar 800 juta.

Sementara negeri-negeri muslim justru sekedar menjadi negara-negara satelit kedua kekuatan militer tersebut. Mayoritas berada di bawah pengaruh blok barat, sedangkan sisanya seperti Irak, Suriah dan Afghanistas (ketika diperintah oleh rezim komunis) berada di bawah pengaruh Uni Sovyet. Sampai kemudian terjadilah invasi militer Uni Sovyet ke Afghanistan tahun 1980. Masuknya Sovyet ke Afghanistan memancing kedatangan para mujahidin dari seluruh belahan dunia –utamanya negeri-negeri muslim- untuk ikut berjuang bersama mujahidin Afghan melawan pasukan komunis Uni Sovyet maupun lokal. Setelah berjuang lebih dari 10 tahun lamanya, akhirnya tentara Uni Sovyet ditarik dari Afghanistan dan rezim komunis pun tumbang.

Saat ini, dunia didominasi oleh Peradaban barat yang dengan berbagai gerakannya dalam menghancurkan Islam. Mungkin bisa dikatakan sebagai masa ‘kegelapan’ umat Islam karena tiadanya kepemimpinan Islam atau Khilafah ‘Ala Manhajin Nubuwwah yang mempersatukan semua umat Islam. Maka dalam kondisi seperti ini kita harus menghilangkan sikap pesimisme dan ketidakberdayaan dengan banyak berperan, tentu dalam batas kemampuan kita dengan semangat optimisme dan idealisme menyongsong tegaknya kembali Islam di muka bumi ini.

Gerakan dengan Konsep Ulul Albab

Dalam menyongsong kembalinya kepemimpinan yang berjalan di atas manhaj kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah) sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasulnya dalam hadits di atas, maka gerakan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Persis dibawah naungan PERSIS perlu mengambil bagian dan peran di dalamnya dengan konsep Ulul Albab sebagai karakter khas yang dimiliki oleh kader-kadernya.

Ulul Albab menurut pengertiannya adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang mendalam. Artinya, Ulul Albab itu adalah orang yang melakukan sebuah proses intelektual dalam mengambil tindakan, serta terlepas dari sikap-sikap spontanitas, pragmatis dan reaksioner. Maka Ulul Albab adalah orang yang mencintai Ilmu, mencintai kerja-kerja intelektual demi melahirkan pemahaman, keyakinan dan tindakan yang benar. Sehingga dengan semangat seperti itu lahirlah sebuah gerakan yang memiliki militansi ideologi (Akidah Islam yang kokoh), progresif dan visioner.

Dalam menghadapi era globalisasi dengan tantangan-tantangan dakwah Islam yang tak sedikit, maka kita harus senantiasa mengedepankan sikap Ulul Albab ini. Sebuah sikap yang tidak mudah terpengaruh oleh berbagai propokasi media, utamanya media sekuler. Tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan tindakan sebelum melakukan pengkajian yang mendalam. Oleh karena itu, dalam melakukan pergerakannya memerlukan banyak waktu untuk mengkaji bersama, membaca, diskusi dan mencurahkan hasil pengkajian itu melalui berbagai media.

Lahirnya peradaban-peradaban yang gemilang adalah berawal dari kerja-kerja intelektual yang tidak sebentar. Rasulullah saw ketika diutus oleh Allah SWT ke tengah-tengah umat jahiliyah yang dipenuhi dengan kemusyrikan dalam rangka menyampaikan risalahnya yang berbasiskan memurnikan tauhid kepada Allah, pada masa-masa awal tidak secara langsung mengajak para sahabatnya untuk menghancurkan patung-patung berhala di sekitar Ka’bah. Akan tetapi Rasulullah saw melakukan sebuah proses pembinaan yang terus menerus, karena beliau ingin membenahi umat dari akarnya, yaitu pikirannya. Kalau pemahamannya sudah benar sehingga melahirkan Akidah yang kuat, maka tidak perlu Rasulullah saw sendiri yang menghancurkan berhala-berhala itu tetapi mereka sendiri yang secara sadar akan melakukan itu.

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim as ketika beliau mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Ismail as. Walaupun itu adalah perintah Allah tetapi Nabi Ibrahim tidak secara otoriter langsung menyembelih anaknya, akan tetapi dilakukan sebuah proses diskusi/musyawarah dengan meminta pendapat Ismail, sebagaimana dalam ayat berikut :

“Maka tatkala ia (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

 Pikiran adalah akar dari kepribadian seseorang, kalau ingin melakukan pembenahan pribadi maka harus dimulai dari pikirannya. Karena memang, kata-kata, sikap, tindakan, dan kepribadian itu muncul dari pikiran. Sebagaimana ungkapan masyhur dalam bidang pengembangan diri You are what you think, kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Bahkan dalam psikologi pendidikan ada sebuah penelitian, bahwa anak yang suka menonton games akan lebih mengedepankan emosi dibandingkan dengan anak yang suka membaca, walaupun sekedar membaca komik. Hal itu karena anak yang suka menonton games sering diasah emosinya, sedangkan anak yang suka membaca lebih sering diasah intelektualnya.

Oleh karena itu, kader Ulul Albab harus senantiasa mengasah rasio dan intelektualnya dan tidak mengasah emosinya. Hal ini lah yang harus menjadi ciri khas kader HIMA Persis di tengah-tengah pergerakan-pergerakan yang lain yang bersifat pragmatis dan reaksioner. Tidak anarkis dan tidak melakukan berbagai aksi-aksi kekerasan yang tidak dibenarkan, selain hal itu akan merusak citra Islam sendiri, juga akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dalam menjatuhkan kekuatan kita.

Akhirnya, semoga konsep Ulul Albab ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi betul-betul mengejawantah dalam kepribadian para kadernya. Ini adalah harapan kita bersama

Wallahu A’lam bis Showwab

Muhammad Atim

Jakarta, 18 April 2011 pukul 09.56

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s