Sekelumit awal kehidupanku

Selasa, 12 Rabi’ul Awal 1432 H/15 Januari 2011 M

Tidak ada sesuatupun yang terjadi, kecuali ia merupakan kehendak Allah Azza wa Jalla. Begitupun ketika aku terlahir ke dunia ini merupakan kehendak Allah. Anugerah kehidupan yang telah diberikan kepadaku adalah karunia terbesar dari-Nya. Saat aku terlahir dari rahim seorang ibu yang bersahaja dan ayah seorang petani yang giat, di sebuah perkampungan. 20 Juli 1988 di sebuah rumah sederhana milik nenekku, tempat pertama kali aku menatap dunia. Kebahagiaan sebuah keluarga mulai merekah karena kelahiran seorang bayi yang diberinama: Atim, yang kemudian ditambah menjadi Muhammad Atim. Ayah, ibu, bibi, paman, nenek, kecuali kakekku, karena ia telah tiada sebelum aku lahir. Saat itu aku berada di keluarga ibuku, tak lama kemudian aku dibawa ke keluarga ayahku untuk kemudian aku tinggal di sana sampai beberapa waktu.

Di saat usiaku belum cukup untuk sekolah, terjadilah suatu keputusan yang membuat ayah dan ibuku bercerai. Aku terbengong saat melihat barang-barang milik ibuku diangkut oleh mobil. Aku ditinggalkan oleh ibuku untuk tinggal bersama ayah. Memang berat bagi seorang anak yang ditinggal ibunya, karena walau bagaimanapun seorang ibu lebih besar kasih sayangnya dibandingkan ayah. Tak berapa lama ternyata akupun tahu bahwa ayahku menikah lagi dengan wanita lain. Selanjutnya aku pun ditemani seorang ibu tiri yang kurang berkasih sayang kepadaku bahkan memperlakukanku dengan sedikit kekerasan. Puncaknya di suatu hari yang mulia, hari jum’at. Saat itu aku sangat menginginkan untuk pergi bersama ayah melaksanakan sholat jum’at. Bukannya didukung, aku malah mendapatkan penolakan keras dari ayah dan ibu tiriku. Ibu tiriku mulai memukulku dengan lidi-lidi yang cukup menyakitkan di kaki dan tubuhku, begitu juga ayahku, yang lebih menuruti ibu tiri dari pada sedikit menaruh kasih sayang kepadaku.

Akupun mulai bosan dengan kenyataan ini. Tangisanku keluar. Aku ingin segera pergi dari rumah itu. Niat ingin melaksanakan sholat jum’at bersama ayah, akhirnya ayahku malah membawaku ke tempat paman supaya aku diantarkan ke ibuku. Semenjak itu aku tinggal bersama ibuku untuk meraup semua kasih sayangnya yang begitu luas. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, hanya sampai usiaku menginjak delapan tahun dan menduduki kelas tiga SD, ibuku meninggal dunia karena terserang sakit. Aku terdiam pasrah menghadapi kenyataan yang memang pahit. Namun nenekku tidak membiarkanku, ia segera mengambil tanggungjawab mengurusku hingga ia mampu membesarkan dan menyekolahkanku sampai lulus SD dengan peringkat empat. Meski sudah tua renta, tapi ia berjasa kepadaku. Dalam kebersamaan dengannya yang penuh suka dan duka, aku selalu diajari untuk prihatin menjalani hidup ini karena aku telah ditinggalkan oleh ayah dan ibuku. Pergi sekolah hanya dengan bekal 200 rupiah, itupun 100 rupiahnya untuk ditabung, jadi jatah untuk jajanku hanya 100 rupiah, kadang-kadang apabila ada rezeki lebih aku dapat menabung 500 rupiah. Tentu saja hari-hari belajarku aku tempuh pulang-pergi dengan berjalan kaki kira-kira 500 meter.

Begitulah aku menjalani sekolah dasar dengan kesederhanaan hingga aku dapat menyelesaikannya. Tak heran, jika setelah itu aku tidak bisa meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya karena ketiadaan biaya. Nenek menyuruhku untuk menggembalakan seekor kambing betina dan seeokor anaknya. Aku menjalaninya untuk mengisi waktu luang. Belakangan aku mengetahui bahwa para nabi pilihan Allah SWT pun pernah menggembala kambing selama hidup mereka, mungkin sebagai langkah awal untuk mendidik umat. Namun tak lama aku menemani kambing itu yang setiap harinya aku gembalakan, pergi siang dan pulang sore dalam keadaan kenyang. Atau kadang aku mencarikan rumput yang kusimpan dalam karung untuk aku berikan kepadanya jika aku malas membawanya keluar kandang. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, aku didatangi seorang ustadz yang membawaku ke sebuah pondok pesantren, tepatnya pondok yang menampung para anak yatim, piatu dan dhu’afa. Ditemani oleh pamanku aku meninggalkan nenekku menuju ke panti asuhan. Air mata pun menetes di antara pipi kedua insan yang akan berpisah, aku dan nenekku. Ia makin prihatin kepadaku, karena kini aku akan jauh dari semua keluargaku.
Saat aku tiba di pondok, aku bertemu dengan para ustadz dan santri-santri. Di sanalah kemudian aku mulai belajar tentang ilmu-ilmu Islam seperti Ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits, tauhid, bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih dan ilmu-ilmu umum. Hal itu sudah cukup bagiku sebagai langkah awal mengenal ilmu-ilmu keislaman yang sebelumnya belum pernah aku temui walaupun masih sangat sedikit porsi waktu untuk belajar, di antaranya karena kurang intensnya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh asatidz dan juga mungkin karena faktor murid yang sedikit, jika ada waktu luang, maka asatidz menyempatkan diri untuk mengajar. Pada saat itu, kondisi Madrasah Tsanawiyah yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Lampu Iman tidak memiliki manajemen yang baik. Namun sedikit-banyak aku telah mendapatkan ilmu dan pemahaman dasar dari pelajaran-pelajaran yang dipelajari yang selanjutnya aku mencoba untuk mempelajarinya sendiri.
Pondok pesantren yang sederhana itu ternyata menjadi batu loncatan bagiku untuk melanjutkan belajar Islam ke pondok pesantren yang lebih bagus, yaitu Pesantren Persatuan Islam No.99 yang berada di Garut Jawa Barat, yang dipimpin oleh Ust. H. Aceng Zakaria. Atas kemurahan hati para dermawan yang menitipkan infaknya untuk kami melalui pondok itu, aku dapat belajar di sana. Di sanalah tempatku menimba ilmu lebih banyak dan lebih mendalaminya, khususnya ilmu-ilmu keislaman.

Setelah tiga tahun aku belajar di Garut, di tingkat Mu’allimin dan mendapatkan ijazah kelulusan dengan prestasi yang bagus, dengan meraih peringkat pertama di setiap tahun, lalu aku kembali ke Karawang untuk memberikan pengabdian di pondok selama dua tahun. Mengajar anak-anak Madrasah Tsanawiyah dan anak-anak SDIT.

Setelah itu aku berhijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studyku, karena atas izin Allah SWT aku diterima di sebuah perguruan tinggi Islam cabang dari Riyadh Saudi Arabia, yaitu LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), tanpa biaya pendidikan dan mendapatkan Mukafaah (tunjangan untuk membantu biaya hidup). Di sanalah kemudian aku lebih memperdalam lagi ilmu keislaman, sekaligus kemampuan untuk berbahasa Arab, karena bahasa yang dipakai dalam pengajaran adalah bahasa Arab. Di sela-sela masa kuliah itulah Allah SWT memperkenankan aku untuk menyempurnakan separuh agamaku, yaitu menikah dengan salah seorang muridku di Karawang di usiaku yang ke-22, tepat pada hari Ahad tanggal 04 Juli 2010. Meski sederhana, pernikahanku dapat terlaksana. Ayahku ikut hadir pada waktu itu, paman, bibi, sebagian saudara, kerabat, kecuali nenekku, ia tidak ikut merasakan kegembiraan atas pernikahanku karena beliau telah dipanggil oleh Allah SWT saat aku telah selesai belajar di pesantren.

Kini aku telah hidup mandiri, bahkan memiliki tanggung jawab sebagai seorang suami yang memimpin keluarga. Perlahan hidup mulai berubah, namun waktu begitu cepat berlalu. Hitam-putih hidupku telah tergoreskan dalam buku kehidupan. Saat Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk bernafas, maka ini adalah kewajibanku untuk terus menghembuskan kalimat Taubat dan Istighfar, memohon ampunan kepada Allah, Penguasa segala sesuatu, atas segala dosa yang telah aku perbuat. Sebab meski hidupku masih Engkau berikan kesempatan untuk mengenal agama-Mu, Ya Allah, akan tetapi masih saja ada ruang bagi nafsuku untuk berbuat dosa yang begitu banyak di hadapan-Mu. Maka kewajibanku, dan kewajiban setiap muslim untuk senantiasa bertaubat.

Tanpa terasa, saat ini aku telah melewati masa tiga tahun kuliah di Lipia, yang berarti aku telah menyelesaikan tingkat I’dad 2 tahun dan Takmili 1 tahun. Pernikahanku telah berjalan selama 7 bulan. Kuliahku sisa empat tahun untuk meraih gelar S1/Lc. Jika Allah mengizinkan, aku akan meneruskan kuliahku di Lipia, namun jika tidak, mungkin masih ada jalan lain untuk memanfaatkan sisa-sisa hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s