Indahnya bertaubat

Bagi para pelaku dosa dan maksiat, besar ataupun kecil, terasa atau tidak terasa, yang masih mendapatkan jatah hidup di dunia ini, hendaklah bergembira dengan kasih sayang Allah SWT yang teramat luas, bahkan keluasannya melebihi kemurkaan-Nya. Kasih sayang-Nya yang luas itu masih disediakan bagi orang-orang yang ingin merasakan indahnya bertaubat. Di saat kita tidak mampu menghadapi kerasnya benturan zaman yang dipenuhi rayuan nafsu, perangkap-perangkap syetan dan godaan dunia yang melenakan, banyak di antara kita yang jatuh dan terpeleset dari jalan keimanan. Kita saat ini hidup di sebuah zaman yang dimana kedurhakaan kepada Allah tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu, akan tetapi sudah menjadi trend. Bukan zamannya yang salah, karena kita dilarang untuk mencela zaman sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman, ”Telah menggangguku seorang keturunan Adam yang mencela zaman, maka Aku adalah zaman, di tangan-Kulah urusannya, Aku membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Bukhari & Muslim/Muttafaq ’alaih).  Tentu saja yang salah adalah orang-orang yang mengisi zaman ini yang kebanyakan mereka telah jauh dari cahaya petunjuk Ilahi. Di saat seperti itu, Allah Dzat yang memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim senantiasa menyeru kita dengan seruan yang menyentuh hati dan mengetuk setiap dinding jiwa yang sedang terlelap,

”Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa  semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Az-Zumar : 53)

Allah SWT melarang kita untuk berputus asa dari kasih sayang-Nya, maksudnya adalah kita tidak boleh beranggapan bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni dosa kita karena sudah terlalu banyak sehingga kita enggan untuk bertaubat dan kembali ke jalan Allah dengan terus menerus menjalani kehidupan yang kelam, dan juga tidak boleh beralasan karena sudah terlanjur sehingga tidak mau lagi keluar dari perangkap dosa. Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa Ia akan mengampuni semua dosa orang-orang yang bertaubat kepada-Nya seberapapun besar dan tingginya sebagaimana dijelaskan pula dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman,

”Wahai anak Adam, sungguh jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung setinggi langit, lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni semuanya dan aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi lalu menemui-Ku dan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

Setiap saat Allah SWT membuka pintu maghfirah dan rahmat-Nya untuk menerima taubat para pendosa selama ajal mereka belum sampai di kerongkongan dan sebelum dunia ini berakhir, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membentangkan tangan-Nya – yakni rahmat-Nya – di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat – yakni di saat hampir tibanya hari kiamat, karena setelah ini terjadi, tidak diterima lagi taubatnya seseorang-.” (HR. Muslim).

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya melebihi kemurkaan-Nya meskipun seorang hamba itu telah sangat jauh dan banyak berbuat dosa kepada-Nya. Hal ini telah dinyatakan dengan jelas oleh Allah SWT dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, Ketika Allah SWT menciptakan makhluk-Nya ia menulis dalam kitab-Nya, kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy: “Sesungguhnya rahmat-Ku telah mengalahkan kemurkaan-Ku.” (Muttafaq ‘alaih). Di situlah letak hikmahnya bahwa kita lebih sering mengucapkan asma Allah yang berbunyi Ar-Rahman (Allah maha pengasih dan penyayang yang kasih sayang-Nya untuk semua makhluknya) dan Ar-Rahim (Allah maha pengasih dan penyayang yang kasih sayang-Nya khusus untuk orang yang beriman) dalam ucapan basmalah kita, Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim), bukan dengan salah satu nama-Nya yang berbunyi Syadidul ‘Iqob (yang sangat keras siksaan-Nya), walaupun memang Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang baik yang jumlahnya banyak.

Jika kita sudah merasa nikmat dengan berbuat dosa baik dengan meninggalkan kewajiban atau dengan melakukan larangan-larangan yang Allah haramkan, maka sesungguhnya itu adalah tipu daya syetan yang membuat keburukan menjadi indah. Sehingga kita terkurung dalam lingkaran syetan tanpa berkeinginan untuk keluar. Ia adalah kenikmatan semu yang bersumber dari hawa nafsu. Nafsu yang sudah akrab dengan dosa, akan mendorong kepada keburukan (ammaratun bissu), Lihat QS. Yusuf ayat 53. Di saat kita berbuat dosa maka nafsu mendorong kita untuk terus manambah dan memperbanyak dosa, karena ia tidak akan pernah merasa puas, ibarat kalau kita meminum air laut, semakin diminum akan semakin menambah haus. Rasulullah saw menggambarkan kondisi hawa nafsu manusia yang tidak pernah merasa puas dengan sabdanya, “Seandainya anak cucu Adam diberikan sebuah lembah yang terdiri dari emas, niscaya dia akan berharap untuk mendapatkan lembah emas yang kedua, dan tidak ada yang bias menyumpal mulutnya selain tanah kuburan (dia akan terus menjadi tamak hingga ia mati).” (HR. Ibnu Majah).

Di saat nafsu kita terus berkobar, pada saat yang sama justru hati nurani kita semakin tertutupi dan merasakan kegersangan, bahkan hidup terasa sempit dan hampa. Hati nurani kita tertutupi oleh noda-noda dosa yang kelam, karena setiap satu dosa yang dilakukan ia menjadi satu titik hitam di hati kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini,

Rasulullah saw bersabda : ”Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat dosa, terjadilah satu titik hitam dalam hatinya, lalu jika ia bertaubat, melepaskannya dan memohon ampun, maka hatinya akan kembali bersih seperti semula. Namun jika ia menambah lagi perbuatan dosanya, maka akan bertambah pula titik hitam itu, hingga hatinya menjadi kelam. Itulah yang disebut ‘Ar-Raan’ oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “ Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menjadi Ar-Raan (penutup) dalam hati mereka.” (Al-Muthaffifin [83] : 14).

Detak-detak penderitaan pun akan semakin kita rasakan dengan kehidupan yang hampa dan sempit, sesuai yang Allah SWT tetapkan di dalam Kitab-Nya, ”Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…”. (QS. Thaha : 124).

Di saat seperti itu tidak ada lagi yang lebih indah bagi kita selain bertaubat kepada Allah SWT. Ia ibarat air yang menyegarkan di tengah kegersangan. Bagaikan pembuka keluasan bagi kehidupan yang terasa hampa dan sempit. Allah SWT akan memberikan berbagai kebaikan kepada orang yang menapaki jalan taubat ini, di antaranya :

1. Dosanya diampuni

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas

2. Keburukannya diganti dengan kebaikan

”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal sholeh, mereka itulah orang-orang yang Allah ganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan, Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Furqan : 70)

3. Mendapatkan Cinta Allah

”…Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri.” (Al-Baqarah : 222)

Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra,
”Sungguh, Allah lebih senang dengan tobat seorang hamba saat ia bertobat kepada-Nya daripada kesenangan salah seorang dari kalian yang berada di tengah padang pasir bersama binatang tunggangannya kemudian binatang itu hilang, padahal dia membawa bekal makanan dan minumannya. Orang itu pun merasa putus asa. Kemudian dia merebahkan badannya di bawah pohon yang rindang setelah putus harapan terhadap binatang tunggangannya. Saat dia rebahan itulah tiba-tiba binatang tunggangannya (kembali) berada di depannya. Dengan cepat dia meraih tali kekangnnya, dan karena saking gembiranya, ia berteriak, ’Ya Allah, Engkau hambaku dan aku adalah Rabbmu!’ karena kegembiraan yang meluap, dia sampai salah ucap.” (HR. Muslim).

4. Diberikan jalan keluar dari kesempitannya

5. Diberikan solusi dari kegelisahannya

6. Diberikan keluasan rezeki

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membiasakan beristighfar, Allah akan menjadikan jalan keluar atas setiap kesempitannya, memberikan solusi bagi kegelisahannya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka.” (HR. Muslim).

7. Mendapatkan keberuntungan

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (An-Nur : 31).

8. Dimasukkan ke dalam Surga

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nasuha), mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan si sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (At-Tahrim : 8).

Taubat yang diterima oleh Allah SWT tentu saja adalah taubat nasuha (yang sungguh-sungguh), yaitu yang memenuhi persyaratan sebagaimana telah disepakati para ulama. Jika dosa itu berhubungan antara seorang hamba dengan Allah tanpa ada kaitannya dengan manusia, maka ada tiga syarat, yaitu: (1) berhenti dari perbuatan maksiat, (2) menyesalinya dan (3) bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara apabila ada kaitannya dengan hak manusia, maka syarat itu ditambah dengan menyelesaikan urusannya dengan orang yang bersangkutan seperti mengembalikan haknya.

Dalam hal ini banyak sekali kisah-kisah yang menjadi teladan dalam bertaubat kepada Allah SWT, seperti kisah seseorang yang telah membunuh 100 orang yang Allah ampuni dosanya karena ia bertaubat dengan sungguh-sungguh walaupun belum banyak melakukan kebaikan, sebab baru beberapa langkah untuk bergabung bersama orang-orang sholeh, ajal telah menjemputnya, begitu juga orang yang telah berzina karena tergoda oleh syetan padahal dia adalah ahli ibadah, karena ia bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah mengampuninya, ia meninggal setelah bersedekah dengan sepotong roti, ketika amalnya ditimbang, ibadahnya selama 70 tahun masih lebih berat dosa zinanya yang dilakukan selama 7 hari, namun dosanya itu tidak ada apa-apanya saat ditimbang dengan sepotong roti yang disedekahkan. Ada pula seorang yang terkenal perampok karena bertaubat menjadi seorang ulama yang terkenal, dia adalah Al-Fudhail bin Iyadh, begitu juga Malik bin Dinar adalah seorang ulama yang keadaannya sebelum bertaubat banyak melakukan dosa.

Keindahan seorang yang bertaubat adalah keindahan yang tak ternilai harganya, karena ia mendapatkan kembali cahaya hidayah Allah setelah diselimuti oleh kegelapan. Sehingga menjadi keharusan bagi dirinya untuk menjaga hidayah itu. Allah SWT menegur hamba-Nya yang mengulur-ulur waktu dan menunda-nundanya untuk bertaubat dengan berbagai alasan melalui firman-Nya,

”Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyu hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi kitab, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Hadid : 16).

Jika Allah SWT dalam ayat di atas bertanya, belum tibakah saatnya? Maka jawaban kita adalah, kini telah tiba saatnya bagi kita untuk bertaubat kepada-Mu ya Rabb. Akhirnya, sebait doa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa ia berkata: ”kami pernah mengulang-ulang sebuah doa bersama Rasulullah saw di suatu majlis sebanyak 100 kali”, layak untuk kita panjatkan,

Robbighfirlii watub ’alayya innaka antat-Tawwaabur-Rahiim

”Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang”

(HR. Bukhari)

2 thoughts on “Indahnya bertaubat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s