Tarbiyah Dzatiyah

(Pembinaan Diri)
Penulis :
Abdullah bin Abdul Aziz Al-Idan

Diterjemahkan oleh :
Muhammad Atim

Muqoddimah
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salan senantiasa tercurah kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Saudara dan saudari, muslim dan muslimah, merupakan karunia Allah Ajja wa Jalla bahwa ia telah memberikan kita ni’mat terbesar, yaitu ni’mat Islam. Dan ia telah memilih kita sebagai muslimin diantara berjuta manusia. Akan tetapi, apakah dibenarkan kita berhenti pada pengertian ini dengan mengamalkan rukun Islam?

Ataukah selayaknya bagi kita untuk meningkatkan kualitas keilmuan, keimanan dan akhlak kita? Kemudian siapa yang bertanggung jawab untuk meningkatkan aspek-aspek tersebut dalam kehidupan kita? Apakah kedua orang tua kita, sahabat-sahabat kita, keluarga kita atau media masa? Atau apakah setiap manusia pada dasarnya bertanggung jawab untuk menegakkan sesuatu yang urgen ini? Kemudian, apasaja aspek-aspek pembinaan dan berbagai macamnya? Dan bagaimana dampaknya baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat?

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan kita temukan jawabannya di dalam buku ini.

Maksud dari Tarbiyah Dzatiyah (Pembinaan Diri)

Jika ada seseorang bertanya, apakah yang dimaksud dengan Tarbiyah Dzatiyah? Jawabannya adalah, Tarbiyah Dzatiyah merupakan sarana pendidikan yang beragam yang ditempuh oleh seorang muslim dalam membentuk kepribadian Islami yang sempurna, yang meliputi berbagai aspek, yaitu aspek keilmuan, keimanan, akhlak, sosial dan yang lainnya. Ia merupakan suatu proses peningkatan menuju derajat kemanusiaan yang sempurna. Dengan kata lain, Tarbiyah Dzatiyah berarti pembinaan seseorang terhadap dirinya oleh dirinya sendiri.

Dalam pengertian ini Tarbiyah Dzatiyah merupakan kebalikan dari Tarbiyah Jama’iyah (pembinaan secara kolektif) atau medan-medan umum yang ditempuh seseorang dan dilakukan bersama orang lain, pendidikan secara bersama-sama itu baik berlangsung di masjid, keluarga, madrasah, media masa, persahabatan, wisata, kunjungan-kungjungan dan kegiatan-kegiatan serta program-program lainnya.

Pentingnya Tarbiyah Dzatiyah

Adapun pentingnya proses Tarbiyah Dzatiyah dan kebutuhan umat islam kepadanya, khususnya di zaman ini karena beberapa sebab berikut ini :

1.       Menjaga diri lebih didahulukan dari pada orang lain

Di saat seorang muslim mendidik dirinya sebetulnya ia sedang membuat penjagaan bagi dirinya agar terhindar dari Siksa Allah dan Api Neraka. Mendidik diri tentunya lebih diutamakan dari pada mendidik orang lain. Seperti yang dilakukan seseorang ketika terjadi musibah kebakaran di rumahnya atau dimana saja, pertama kali yang ia pikirkan adalah keselamatan dirinya. Ini adalah suatu bukti yang menguatkan firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6). Makna menjaga diri dari api neraka menurut Ibnu Sa’di Rohimahullah adalah, ‘Senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya serta bertaubat dari segala hal yang mengundang kebencian Allah dan siksa-Nya’.

2.      Jika bukan kamu yang mendidik diri kamu, maka siapa lagi?

Siapakah yang berkenan mendidik diri seseorang manakala telah berusia 15 tahun, 20 tahun, 30 tahun, atau lebih dari itu? Pada hakikatnya, jika bukan dia sendiri yang mendidik dirinya, tidak akan ada lagi seorang pun yang mendidiknya, atau memberi pengaruh baik kepadanya. Hal ini terjadi karena ada suatu keyakinan yang dimiliki oleh orang tua, atau oleh manusia pada umumnya, bahwa apabila seseorang telah sampai di usia dewasa maka dialah yang lebih mengetahui terhadap kemaslahatan dirinya. Atau karena para orang tua itu terlalu sibuk dengan urusan-urusan dunianya sehingga lupa untuk mendidik anak-anaknya. Dengan demikian, jika bukan diri kita yang mendidik kita, kita akan kehilangan momentum untuk berbuat amal shaleh, waktu berlalu begitu saja tanpa arti, usia pun semakin berkurang, sementara kita tak kunjung mengenal kelemahan diri kita dan belum juga berkeinginan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, maka kita akan menyesal di saat kematian tiba dan di hari pengungkapan-pengungkapan kesalahan. “(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan.” (At-Taghabun : 9)

3.      Hisab secara individu

Allah SWT akan menghisab para hamba-Nya pada hari kiamat secara sendiri-sendiri tidak secara berjamaah, artinya setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan setiap laku lampahnya baik atau buruk, meskipun dia menganggap bahwa ada orang lain yang menjadi penyebab dalam kesesatan dan penyelewangannya atau kelalaiannya. Maka bagi setiap hamba Allah dengan keyakinan ini, wajib menghisab dirinya sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan setiap mereka mendatangi-Nya pada hari kiamat sendiri” (Maryam; 95). Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirma, “Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (Al-Isra: 13-14). Dalam sebuah hadits dari Nabi Muhammad saw bahwa ia bersabda, “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya, antara Allah dan dirinya tidak ada penghalang, maka siapa saja yang mendidik dirinya -dengan izin Allah- akan diringankan hisabnya dan selamat atas rahmat-Nya dari siksa-Nya.” (Muttafaq ‘Alaih).

4.      Mengantarkan kepada perubahan

Setiap manusia tidak ada yang luput dari aib dan kekurangan-kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat baik kecil maupun besar. Sepanjang hal itu terjadi, maka dibutuhkan solusi dalam mengobati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut secara dini dan sebelum sulit untuk diperbaiki. Seseorang tidak akan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahannya atau mengobati aib-aibnya secara integral dan berkesinambungan kecuali di saat dia melakukannya dengan jalan Tarbiyah Dzatiyah, karena dia lebih tahu terhadap dirinya sendiri, lebih mengenal apa yang ada dalam dirinya dan rahasia-rahasianya dan ia lebih mampu –jika dia memiliki kemauan untuk mendidik dirinya- untuk melakukannya menuju manhaj tertentu, kepribadian yang utama dan pergerakan yang bermanfaat.

5.      Sarana menuju sikap teguh pendirian dan istiqomah

Karena sebab pertama setelah taufik dari Allah Subhanahu wata’ala dalam keteguhan diri seorang muslim dalam menapaki jalan keimanan dan hidayah sampai akhir hayat adalah membuat penjagaan awal dalam menghadapi berbagai fitnah dan godaan-godaan yang menyerang seorang muslim di zaman ini.

Bersambung…

[kami menerima jasa atau kerjasama penerjemahan bahasa Arab, baik buku ataupun yang lainnya, dapat menghubungi Muhammad Atim di no.Hp 085814732848]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s