Yang mengenal kembali Tuhannya

SUNGGUH malang nasib pemuda satu ini. Ia seperti mengidap suatu penyakit. Setiap ia duduk di tengah orang banyak, maka semua orang akan berkata kepadanya: “Busuk sekali baumu, apakah kau tak pernah mandi?!”
Sebenarnya telah berulangkali ia memeriksakan diri karena masalah yang dihadapinya. Semua anggota tubuhnya telah diperiksa oleh para dokter spesialis. Hidung, telinga, gigi, tenggorokan, lidah, jantung lever hingga rongga perutnya, namun tak satu pun mempunyai kelainan. Semua dokter mengatakan negatif.

Setiap hari ia mandi beberapa kali. Seluruh badannya ia beri parfum yang mahal. Namun tidak juga membawa manfaat. Bahkan baunya semakin menguap, seperti bau bangkai. Hingga semua kawan menjauhinya, terlebih lagi lawannya.
Akhirnya ia menangis mengadukan nasibnya kepada seorang yang shaleh.
Ia menceritakan apa yang ia alami. Orang shaleh itu kemudian menanggapi keluhannya dengan mengatakan: “Sebenarnya bau itu bukan berasal dari tubuhmu, tapi berasal dari perbuatanmu!”
“Adakah amal perbuatan seseorang itu mengeluarkan bau?” tanya pemuda itu terkejut.
“Ini merupakan rahasia yang diungkap oleh Allah, sebagai tanda bahwa Allah sayang padamu dan menginginkan sesuatu yang baik bagi dirimu. Telah dibuka suatu jalan menuju pintu taubat bagimu,” kata orang shaleh itu.
“Sesungguhnya hidupku bergelimang dengan berbagai kejahatan. Mencuri, menipu, rentenir, berzina, mabuk, cenderung kepada perbuatan-perbuatan tidak terpuji,” lanjut pemuda itu dengan sejujurnya.
“Telah kuduga sejak semula, semua ini adalah bau tingkah lakumu,” orang shaleh itu menanggapi.
“Lalu apa jalan keluarnya pak?”
“Perbaiki tingkah lakumu dan bertaubatlah dengan sungguh-sungguh.”
Mendengar hal itu, pemuda tersebut melangkah pulang dengan penuh kesadaran dan kemantapan akan segala penyebab yang dideritanya. Sejak saat itu ia mulai menuju pintu taubat. Ditinggalkannya semua perbuatan yang terlarang. Namun bau busuk badannya belum juga lenyap.
Kembali ia mengadukan nasibnya sambil menangis kepada orang shaleh tersebut.
“Ketahuilah, sebenarnya yang kau lakukan baru pada tahap memperbaiki tingkah lakumu yang sekarang, tetapi amalanmu yang lampau bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Perbuatanmu yang lalu tak mungkin lepas dari perbuatanmu yang sekarang, kecuali karena suatu pengampunan yang datangnya dari Allah.”
“Lalu, cara apa yang harus kutempuh agar bisa mencapai pengampunan itu?”
“Perbanyak berbuat kebaikan, karena hal itu bisa menghapus dosa-dosa masa lalu. Bersedekahlah, lakukan ibadah haji, agar kau bisa menjadi Haji Mabrur yang terampuni seluruh dosa, bagaikan seorang bayi suci yang baru lahir dari perut ibunya. Perbanyak sujud kepada Tuhanmu. Sesalilah segala perbuatanmu yang lalu dan perbanyak istighfar,” orang shaleh itu memberi nasehat.
Pemuda itu kemudian menyedekahkan hartanya. Melakukan ibadah haji. Bersujud di setiap sudut Ka’bah. Ia menangis terus menerus menyesali perbuatannya dan beristighfar. Ia telah melakukan semuanya tanpa henti. Namun bau busuk badannya belum juga sirna. Hingga terpaksa ia menyepi di sebuah kuburan lama. Ia bertekad tinggal di situ sampai datangnya ampunan dan karunia Allah atas dirinya. Pada malam pertama ia tidur di tempat itu, ia melihat semua mayat di sekelilingnya bangkit dan kabur beserta kain kafannya, karena tak tahan mencium bau busuk badannya. Lalu ia tersentak bangun dari tidurnya, matanya terbelalak ketika melihat semua liang lahat yang berada di sekitarnya kosong ditinggalkan mayat-mayat yang dilihat dalam mimpinya. Ia segera bersujud, merintih dan menangis sejadi-jadinya hingga fajar. Ia baru sadar ketika orang shaleh itu datang menegurnya:
“Tiada manfaat semua tangis dan rintihanmu, selama hatimu penuh dengan konflik. Kau menangis bukan menuduh dirimu, namun menuduh ketidakadilan Ilahi terhadapmu,” kata pak tua itu.
“Aku belum paham maksudmu, pak?”
“Sadarkah kau, bahwa Allah tidak pernah berbuat tidak adil terhadapmu?”
“Hal ini belum kusadari.”
“Kalau begitu jelas sekali, kau telah meragukan keadilan Tuhan.”
“Persoalannya telah kau jungkirbalikkan. Tuhan telah kau letakkan sebagai terdakwa dan dirimu sebagai orang yang diperkosa hak asasinya. Dengan demikian, segala perbuatan baik yang selama ini kau lakukan bukannya mengurangi dosa-dosamu, tetapi menambah dosa baru.”
“Tetapi aku merasa sebagai yang dizalimi.”
“Seandainya penglihatanku bisa menembus dinding ghaib, maka kau ini wajar ditimpa siksa yang lebih mengerikan. Aku yakin Allah yang telah mengujimu sangat kasihan padamu. Tapi kau tidak menyadari akan kebodohanmu, bahkan kau berbalik menuduh Tuhanmu telah berbuat kejam terhadap dirimu. Beristighfarlah kau, mohonlah ampunan-Nya. Bersihkan hatimu dari prasangka terhadap Tuhan. Serahkan dirimu kepada-Nya. Sesungguhnya, segala amal ibadahmu, hajimu, shalatmu, puasamu dan taubatmu selama ini tidak mencerminkan sebagai seorang muslim.”
“Aku bukan seorang muslim katamu?”
“Benar, kau belum menjadi seorang muslim yang sejati selama kau belum berserah diri sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa. Seseorang yang berserah diri tidak boleh menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya dari setiap takdir Tuhan. Kita harus menempatkan sejajar antara permohonan kita yang tertolak dan yang diterima oleh Tuhan. Setiap kenikmatan yang diberikan harus dipandang sama beratnya dengan keinginan yang tidak dikabulkan. Apabila kita dilimpahi ni’mat, maka jangan terlampau gembira dan apabila keinginan kita tertolak, maka jangan cepat-cepat mengumpat. Sifat adil Tuhan tidak pernah mengalami krisis. Ia selalu bersikap adil dalam segala situasi dan kondisi. Rahmat-Nya selalu berada dalam setiap takdir. Katakanlah dengan penuh khidmat dan kejujuran, ‘Laa ilaaha illallaah’. Tiada Tuhan selain Allah. Setelah itu, beristiqomahlah. Kerjakan segala perintah-Nya dengan penuh kejujuran. Demikianlah yang disebut Islam.
“Tapi…… setiap saat aku selalu mengucap: Laa ilaaha illallaah, sahutnya.
“Benar, namun semua itu kau ucapkan hanya diujung lidahmu, tidak masuk ke hatimu. Tidak pula kau ungkap dalam sikap dan perbuatanmu,” tegas orang shaleh itu.
“Lalu, yang bagaimana lagi pak?”
“Kau suka membantah Tuhanmu, seakan kedudukanmu sejajar dengan-Nya. Kau berkata: Aku sudah memohon ampunan, namun tidak disambut-Nya. Aku merintih dan menangis, namun tidak dikasihani-Nya. Dimana letak keadilan-Mu ya Tuhan?! Bukankah demikian perasaanmu?” kata orang shaleh itu.
Kemudian ditepuk-tepuknya bahu pemuda itu dan berkata dengan suara yang lirih namun mantap: “Hal yang seperti itu tidak bisa disebut bertauhid, kawan. Meng-Esakan Allah Yang Maha Esa adalah menjadikan iradat Allah sesuai dengan kehendak dan seleramu, dan segala apa yang dilakukan-Nya menjadi kecintaanmu, seakan tanganmu adalah tangan-Nya, lidahmu adalah lidah-Nya. Tauhid menyuruhmu berkata “ya”. Melakukan segala perintah sebagaimana para malaikat, tanpa bertanya mengapa harus demikian. Karena tiada Tuhan selain Allah. Karena tiada yang lebih adil, lebih rahim dan lebih benar selain Dia. Dia senantiasa Wujud, sedang kau musnah. Bagaimana mungkin yang musnah membantah Yang Wujud. Yang benar adalah semua yang musnah menerima segala macam uluran dari Yang Wujud, dan agar bersujud, berterima kasih serta bersyukur. Karena tiada lagi yang wujud dan yang kekal kecuali Dia sendiri. Dia positif, selain-Nya negatif. Dia mutlak kebenaran-Nya sedang selainnya salah.”
Pemuda tersebut menangis terisak-isak setelah mendengar kalimat yang bermakna dalam itu. Selama ini ia merasa belum pernah hidup sewajarnya dan mengabdi dengan sebenarnya kepada Tuhannya.
Sekali lagi orang shaleh itu berbisik kepadanya dengan kesan yang mantap:
“Kini, kau telah menyadari semuanya. Bersiaplah dan katakan dengan penuh kesungguhan dari lubuk hatimu yang paling dalam, LAA ILAAHA ILLALLAAH …. dan beristiqomahlah. Katakan, walau hanya sekali, namun dari lubuk hatimu yang jernih.”
Dengan penuh kesungguhan dan dengan suara gemetar pemuda itu kemudian mengucapkan: “LAA ILAAHA ILLALLAAH.”
Seketika itu juga bau paling harum menyebar, seakan kebun dari surga turun ke bumi. Semua orang yang berpapasan dengan orang itu akan terpukau.
“Sebenarnya siapakah orang itu? Dari mana datangnya malaikat yang menyebarkan bau yang teramat harum itu?” tanya orang-orang.
Orang shaleh itu kemudian menjawab: “Sesungguhnya, ia adalah orang yang mengenal kembali Tuhannya.”



SAHABAT, di tengah kerasnya benturan zaman yang dipenuhi rayuan hawa nafsu dan perangkap syetan, tak sedikit di antara kita yang berjatuhan dari jalan keimanan. Maka, di saat kita terperosok di dalam lumpur-lumpur dosa, tak semestinya kita berputus asa dan menyerah pada keadaan seraya berdalih dengan kata “terlanjur”, sehingga kita semakin larut dalam kenistaan. Terlalu besar kasih sayang Allah itu untuk kita sia-siakan.
Allah SWT terkadang memberikan teguran kepada setiap hamba-Nya di saat ia lalai dengan berbagai macam bentuk. Seperti kisah pemuda di atas, yang diberikan teguran dengan ditorehkan sedikit aib dalam dirinya, yang kemudian aib itu membuat dirinya sadar dan kembali kepada jalan Allah. Tentu ini merupakan kasih sayang Allah yang teramat besar.
Namun, alangkah celakanya jika kita tidak pernah merasakan teguran-teguran itu dan kita merasa tenang-tenang saja dengan bangga melakukan berbagai dosa. Mungkin kita bisa bebas dari siksa di dunia, tapi mustahil kita bisa mengelak dari kerasnya siksa di akhirat.
Sebelum semuanya terlambat, segeralah kita sambut ampunan dan kasih sayang Allah yang teramat luas itu. Allah akan senantiasa mengampuni kita meskipun hidup kita telah kelam berlumuran dosa. Tidakkah kita mendengar panggilan-Nya yang begitu indah, ”Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Az-Zumar : 53). Bahkan Ia akan menggantikannya dengan kebaikan jika kita benar-benar bertaubat kepada-Nya, Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka mereka itulah yang kejahatannya diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Furqan : 70).
Tidakkah cukup karunia dan kasih sayang Allah yang sangat besar ini? Mengapa kita selalu menyia-nyiakannya dengan mengulur waktu untuk segera mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita selalu berdalih bahwa kita masih muda, “mumpung masih muda, semuanya kita nikmati dengan hidup poya-poya, kalau sudah tua baru rajin ibadah”. Padahal belum tentu kita bisa sampai pada usia tua. Berapa banyak orang yang meninggal pada usia muda? Justeru seharusnya kita berprinsip, “mumpung masih muda, kita beribadah dengan penuh semangat!”. Karena masa muda adalah puncaknya usia kehidupan manusia, dimana ketika itu terkumpul segala potensi. Maka, selayaknya kita menggunakan potensi itu untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.
Jadi, jika Allah SWT bertanya kepada kita melalui firman-Nya: ”Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyu hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)?, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi kitab, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Hadid : 16). Maka saat ini juga kita jawab: ”Kini sudah tiba saatnya untukku kembali meniti jalan-Mu ya Rabb…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s