Sebuah Arti Perubahan

Sahabat, semua yang ada di alam ini akan berubah, tak ada yang tetap dan abadi kecuali perubahan itu sendiri. Begitu pula diri kita, kita akan mengalami perubahan. Perubahan masa hidup, saat kita menikmati keceriaan masa kanak-kanak, kemudian beralih ke masa remaja yang penuh romantika, lalu masa dewasa yang sarat dengan beban-beban kehidupan, berakhir di masa tua yang lemah, akhirnya kita semakin dekat dengan pintu kematian.

Seiring dengan itu, kita akan mengalami perubahan potensi diri, peran dan tanggung jawab hidup.
Alur kehidupan itu, sudah digariskan oleh Allah SWT sebagai amanah yang mesti dilalui. Umur manusia itu, dengan segala perubahan yang terjadi padanya, ibarat suatu batas waktu yang dikontrak oleh Allah SWT kepada manusia, ada yang lebih pendek, ada pula yang lebih panjang. Apa saja yang dilakukan oleh manusia dalam rentang waktu itu, setelah masa kontraknya habis, maka akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Selanjutnya ia akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Namun, pada hakikatnya manusia memiliki tugas yang sama yaitu mengabdi kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Bekal yang diberikan pun sama yaitu hati, akal dan fitrah. Setiap manusia yang terlahir ke dunia, tanpa terkecuali, mereka semuanya diberikan fitrah oleh Allah SWT sebagai modal dasar untuk hidup, yaitu sebuah naluri hidayah Islam yang suci yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada kita di saat kita masih berada dalam kandungan ibu. Saat ini mungkin kita tidak sadar, tapi itulah fakta yang terjadi, kita telah menyatakan kesaksian bahwa Allah Sang Pencipta itu adalah Tuhan kita yang mesti kita mengabdi kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai tujuan hidup kita. Namun di antara manusia ada yang memelihara fitrah itu, dan ada pula yang mengabaikannya.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raf : 172).
Allah menberikan dua jalan kepada manusia, yaitu jalan kedurhakaan dan jalan ketakwaan. Manusia bebas memilih jalan mana yang ia tempuh. Dan pada akhirnya mereka akan sampai di akhir hidup masing-masing. Orang durhaka akan tiba di kesengsaraan yang hebat, yaitu neraka sebagai tempat terakhirnya yang penuh dengan siksaan, sementara orang yang bertakwa akan tiba di kebahagiaan yang hakiki, yaitu surga sebagai tempat terakhirnya yang penuh dengan kenikmatan, dan tujuannya pun akan ia raih, yaitu berjumpa dengan Allah SWT.
Itu merupakan keterangan yang jelas untuk seluruh manusia. Jadi, tidak ada alasan apapun bagi manusia untuk mengelak dari keadilan Allah SWT yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, manakala kita masih berada di jalan yang salah, yaitu jalan kedurhakaan, segeralah merubah diri ke arah jalan menuju kebahagiaan, sebelum masa kontrak hidup kita habis. Karena sesungguhnya kita sendiri yang bisa merubah diri kita, kita sendiri yang memegang kendali hidup kita, sebab kita sudah diberikan potensi, yaitu hati, akal, fitrah dan kebebasan memilih. Jadi, takdir Allah akan berlaku jika kita sudah berusaha. Allah tidak akan merubah keadaan kita, sampai diri kita sendiri yang merubahnya. Allah SWT berfirman,
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’du: 11).
Sebagai manusia muslim tentunya kita memiliki tujuan hidup yang sudah jelas, yaitu: kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Sementara hidup di dunia yang sedang kita jalani hanya sekedar ladang untuk menguji siapa yang terbaik tanamannya, siapa yang menanam amal shaleh, dia akan beroleh surga, dan siapa yang menanam amal salah, dia akan mendapatkan neraka. Dengan keyakinan seperti itu, sudah selayaknya kita bertekad untuk merubah diri ke arah yang lebih baik. Asumsinya adalah supaya kita memperoleh husnul khatimah (akhir hidup yang baik), dengan keimanan yang membumbung tinggi dan sebagai syahid di jalan Allah. Jangan sampai ketika ajal menjemput kita, kita dalam keadaan tidak siap, masih bergelimang dalam maksiat dan penuh dosa, dan kita belum menghadirkan amal terbaik kita untuk dipersembahkan kepada Allah.

Oleh karena itu, merubah diri ke arah yang lebih baik adalah suatu hal yang mesti kita lakukan dari saat ini juga, tak bisa ditunda-tunda, karena datangnya kematian pun tak bisa ditunda. Perubahan itu bukan perubahan yang rapuh, tetapi perubahan yang mengakar ke dalam inti diri kita: hati dan pikiran kita. Kita harus berhati-hati dengan apa yang terbetik dalam hati kita, dan apa yang terlintas dalam pikiran kita. Karena dari sanalah akan lahir sebuah gagasan, kemudian menjadi keinginan. Jika keinginan itu kuat, ia akan menjadi tekad (niat), kemudian akan lahir sebuah tindakan. Jika tindakan itu dilakukan secara berulang, ia akan menjadi kebiasaan. Dan jika kebiasaan itu berlangsung lama, ia menjadi watak. Untuk itulah, apa yang terbetik dalam hati dan terlintas dalam pikiran, mesti sesuatu yang positif (shalih), sehingga akhirnya kita dengan mudah dan istiqamah menjadi orang yang shalih. Sedetik saja hidup yang kita lalui dalam hidup ini, bernilai ibadah di sisi Allah. Sehingga, kapanpun Allah menjemput kita, kita siap menyambutnya. Wahai jiwa yang masing mengawang-ngawang dalam pikiran yang tak karuan, segeralah bertekad dan berjihad menuju cita-cita hidup yang hakiki: berjumpa dengan Allah Sang Pencipta. (Ibtigha wajhillah). Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s