Menuju Kemandirian

Sahabat, memang berat bagi perasaan seorang anak manapun yang ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Selain karena mereka berdua sebagai orang yang dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari, mereka juga yang memberikan kasih sayang, cinta dan keceriaan yang terjalin dalam sebuah keluarga yang harmonis. Mereka adalah guru pertama yang dapat mewarnai karakter kita, membina, mendidik dan mengenalkan arti kehidupan.

Namun terkadang tidak sedikit kehadiran orang tua malah menjadi malapetaka bagi anak. Mereka tak pernah memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami agama, membekalinya dengan nilai-nilai spiritual. Anak dibiarkan begitu saja mengecap aroma dunia luar yang penuh dengan glamour, mengikuti pergaulan bebas yang melampaui batas kewajaran. Pulang malam dalam keadaan mabuk sudah menjadi hal biasa, pergi bersama anggota gengnya untuk menghabiskan waktunya dengan sia-sia, atau menghabiskan malam minggunya berduaan dengan pacar sudah tidak lagi menjadi kekhawatiran orang tua. Padahal, teramat berat tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang tua terhadap anak-anaknya, karena mereka merupakan amanah yang harus dijaga. Kondisi seperti ini disebabkan oleh sikap orang tua yang tak mampu menjaga fitrah anak yang padahal telah diberikan oleh Allah SWT semenjak ia lahir ke dunia, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci-diberi hidayah Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Menjadikan anak Yahudi, Nashrani atau Majusi berarti membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan, termasuk tak peduli terhadap kenakalan anak, terutama pada masa remaja.
Sahabat, pada hakikatnya ada atau tiada orang tua bagi kita, itu merupakan tantangan besar untuk bisa tetap memelihara kesucian fitrah kita, yaitu sebuah potensi dalam diri kita untuk cendrung senantiasa dalam kebaikan, lalu kita menemukan jati diri kita dan menjadi mandiri dalam menjalani hidup ini. Syukurlah jika sahabat memiliki orang tua yang bisa mendidik kita untuk mengenal Allah Sang Pencipta, mengajarkan nilai-nilai agama kepada kita, sebagaimana dahulu Nabi Ismail as yang berada dalam naungan orang tua yang bertauhid yaitu Nabi Ibrahim as, dalam setiap perjalanannya kerap mengandung pendidikan yang berharga bagi diri Ismail as. Pernah suatu ketika di saat Ismail sampai pada umur sanggup berusaha (menginjak usia remaja) bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. Ash-shaffat : 102).
Kalau kita perhatikan dialog di atas, tampak bahwa Ibrahim mendidik anaknya Ismail untuk bersikap mandiri dengan ungkapannya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Lantas Ismail pun tampil dengan kemandirian akidahnya yang mantap, ia menjawab dengan tegas, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” Sikap anak yang seperti itu merupakan cerminan dari jerih payah orang tua dalam mendidik dengan ketaatan kepada Allah, dan juga hasil dari doa yang kerap kali dilantunkan di sela-sela pengharapannya dengan memohon generai yang shalih.
Namun, andaikata kita berada dalam kubangan orang tua yang tidak bertauhid, dengan kata lain tidak mampu mendidik kita dengan nilai-nilai spiritual yang akan menjadi bekal buat kita untuk menjadi pribadi yang memiliki kemandirian akidah dalam menghadapi hidup ini, maka jadilah seperti Nabi Ibrahim as, jauh sebelum ia melahirkan Ismail yang shaleh itu, ia adalah anak dari seorang pembuat patung berhala yang bernama Azar bin Nakhur. Walaupun pekerjaan orang tuanya menjual dan menyembah patung, ia tak pernah ikut menjadi sesat dengan menyembah patung berhala, justeru ia tegar mempertahankan keyakinannya, setelah Allah SWT memberikannya hidayah, menjadikannya sebagai Nabi dan kekasih-Nya. Dalam sebuah tempat yang disebut maqam Ibrahim, ia berdiri mengajak kaumnya untuk merenungi jati diri manusia dengan mencari Tuhan yang sesungguhnya. Begitu pula kepada ayahnya, ia tak pernah mengeluh untuk terus mengajaknya menyembah Allah meskipun ayahnya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS. Maryam : 46-48).
Ataupun jika ternyata kita lahir ke dunia dalam keadaan tanpa kedua orang tua yang telah meninggalkan kita, maka bersabarlah, jalani hidup apa adanya, jangan pernah menganggap bahwa Allah itu tidak adil karena keadaan kita. Jika kita menganggap Allah tidak adil, maka kita akan mendapatkan akibat dari anggapan kita itu, Allahu ‘ala dzannil abdi’. Sebagaimana ahli psikologi mengatakan, apa yang terjadi pada diri kita adalah menurut anggapan kita, you are what you think.
Manakala kita lahir ke dunia sudah ditinggal ayah, atau ibu, atau kedua-duanya, justru saat-saat seperti itulah yang sangat potensial untuk menjadikan kita mandiri. Allah SWT sengaja mengutus Nabi Muhammad saw ke dunia ini dalam keadaan yatim-piatu, beliau ditinggalkan ayahnya Abdullah di saat beliau masih dalam kandungan ibunya, sekitar tujuh bulan sebelum beliau lahir, dan ditinggal ibunya Aminah pada saat pulang dari Madinah setelah diperkenalkan kepada keluarga neneknya Bani Najjar dan berziarah ke makam ayahnya, di sebuah tempat yang bernama Abwa (sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah, kira-kira sejauh 23 mil di sebelah selatan kota Madinah), dalam usia beliau yang sangat dini, yaitu sekitar enam tahun. Sebenarnya, secara manusiawi beliau amat pedih menghadapi kenyataan hidup tanpa kasih sayang orang tua. Namun, di saat itulah Allah mendidik kemandirian kepada beliau. Betapa setiap perjalanan beliau untuk menjadi seorang Rasul banyak terdapat pelajaran yang sangat berharga. Kepedihan demi kepedihan yang beliau rasakan semakin mengiris hati, berawal dari kedua orang tuanya meninggal, disusul oleh kakeknya Abdul Muthalib setelah menghibur beliau selama dua tahun, hingga kepedihan itu mencapai puncaknya pada suatu tahun yang disebut ‘Amul Huzni (tahun kepedihan). Akan tetapi dalam kepedihan itu, justeru beliau tampil dengan sikap sabar, kemandirian yang kuat dan keperibadiannya yang menawan. Beliau tidak mau menyusahkan orang lain, ketika beliau hidup bersama pamannya Abu Thalib beliau mengembala kambing milik penduduk Mekah, pergi berdagang dengan giat demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Sungguh, dengan keprihatinan itu, beliau menjadi orang yang dimuliakan Allah dengan kenabian dan menjadi panutan umat manusia di seluruh jagat raya ini.
Sahabat, hiduplah bersama kemandirian, perteguhlah prinsip diri, lepaskan segala ketergantungan kepada orang lain, termasuk kepada orang tua. Bergantunglah hanya kepada Allah. Berjuanglah di jalan Allah untuk mendapatkan ridha-Nya, karena dunia saat ini menunggu generasi-generasi muda yang tangguh seperti kita. Siapapun diri kita, dari manapun kita berasal, kita semua memiliki peluang untuk menjadi sukses di dunia dan di akhirat.

Jangan pernah mengatakan bahwa kita hanya berasal dari keluarga biasa, kemudian menganggap tidak pernah punya peluang untuk sukses. Salah, itu salah besar! Istilah kata, meskipun kita lahir sebagai bebek namun bermimpilah menjadi elang. Ketahuilah, para nabi yang diunggulkan oleh Allah dengan sebutan ulul ‘Azmi yang berarti memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi tugas dan ujian yang berat, mereka adalah para nabi yang berasal dari keluarga biasa, yakni orang tuanya bukan nabi. Mereka adalah Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf ayat 35. Sementara nama-nama tersebut terdapat dalam surat Asy-Syura ayat 13 dan Al-Ahzab ayat 7. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s