Kehidupan yang rapuh

Saat ini kita dihadapkan pada kenyataan hidup yang memprihatinkan. Kejahatan menjadi hal yang biasa, sementara kebaikan berwujud asing di tengah kehidupan. Tengok saja sarana-sarana kemaksiatan semakin diminati orang, sementara tempat-tempat ibadah dan lahan-lahan amal shaleh nyaris kosong dan sepi dari jamahan orang.

Ini adalah suatu keberhasilan yang nyata bagi misi sang makhluk bernama syetan. Ia kerap kali membuat indah setiap keburukan dan menjauhkan manusia dari kebaikan. Keberhasilan ini tak lepas dari peran wali-walinya yang setia membantu. Mulai dari para pemimpin yang zhalim, para konglomerat yang menafkahkan hartanya untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan para ’pejuang’ yang gigih di jalan kebatilan. Mereka senantiasa melakukan berbagai macam cara dalam menyuburkan kejahatan, keburukan dan pengingkaran terhadap Allah SWT.

Era globalisasi yang membuat dunia ini seperti satu kampung kecil, dimana setiap informasi dari belahan bumi manapun bisa diakses oleh setiap orang dengan mudah, merupakan lahan empuk bagi para wali syetan itu dalam melaksanakan misinya. Mereka tak henti-hentinya menyebarkan pemikiran-pemikiran dan prilaku-prilaku busuk serta gaya hidup yang lebih rendah dari binatang, melalui tontonan, bacaan, iming-iming harta kekayaan dan melalui berbagai media lainnya. Dengan gaya yang memukau dan membuat setiap orang tertarik.

Kenyataan ini begitu sulit dihadapi oleh orang-orang beriman. Bahkan tak mustahil bagi orang yang imannya masih tipis dan rapuh terjerumus dalam kedurhakaan, karena teramat beratnya godaan dan perangkap yang menelikung dirinya. Rasulullah saw menjelaskan beratnya ujian keimanan pada saat ini dengan sabdanya, “Orang yang sabar dalam menegakkan agamanya di antara mereka bagaikan orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Memegang teguh keimanan bagaikan menggenggam bara api, karena betapa beratnya godaan yang menerjang. Maka, tidak sedikit orang-orang yang beriman khususnya pada saat ini akibat godaan itu dan didorong pula oleh derasnya hawa nafsu dalam dirinya, berjatuhan dari jalan keimanan. Mereka terperosok di lubang-lubang dosa, tercebur di lumpur-lumpur maksiat, dan terlempar ke dalam jurang kenistaan.

Di antara mereka ada yang tergoda oleh wanita, tergoda dengan harta kekayaan, dan ada pula yang tergoda dengan kekuasaan. Kehidupan mereka tidak jauh dari selalu mengumpulkan kesenangan duniawi yang rapuh yang jika suatu saat pemilik dari segala kehidupan ini mengambilnya, yaitu Allah Azza wa jalla, maka tidak ada daya dan upaya dalam menahannya, dengan begitu mereka selalu berkutat dan berputar dalam lingkaran syetan. Allah SWT menggambarkan kerapuhan hidup mereka dalam firman-Nya berikut ini, “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, justru Kami bukakan semua pintu (kesenagan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am [6] : 44)

Dengan kehidupan yang rapuh yang tergambar di sekeliling kita, mulai dari kerapuhan iman, kerapuhan moral, kerapuhan perasaan belas kasih terhadap sesama, dan kerapuhan akan tujuan hidup yang dijalani bagi orang yang tertipu sehingga membuat dirinya tidak lagi memikirkan hendak kemanakah sebenarnya perjalanan hidupnya dan untuk apa hidup ini ada. Lantas akankah kita menjadi bagian dari mereka yang tergerus godaan zaman? atauhkah kita hendak menegakkan diri dan meluruskan langkah untuk mengambil bagian dari solusi atas segala permasalahan kehidupan ini? Itu bergantung kepada sikap dan pola hidup kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita. Bergantung pula kepada kesibukan apa yang senantiasa kita jalani, apakah ibadah dan dakwah, ataukah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam rangka pencapaian-pencapaian keberhasilan duniawi dan kosong dari makna ibadah dan dakwah tersebut, atau juga menjalani hidup ini dengan hanya sebatas hura-hura dan sebagainya.

Dalam ayat berikut ini Allah SWT memberikan kita satu semangat untuk tetap istiqomah di jalan-Nya tanpa sejenak pun menoleh dengan perasaan iri terhadap orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia,

”Dan bersabarlah engkau bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18] : 28).

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s