Berlomba dengan waktu

Dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala melalui riwayat Al-Fadhl bin Musa ada sebuah kisah tentang seorang perampok yang sadar, lalu dengan kesungguhan taubatnya ia menjadi seorang imam dan ulama. Orang tersebut adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Suatu ketika, seperti biasa Al-Fudhail menunggu sasaran perampokannya yang lewat di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Di sela-sela penantiannya tanpa sadar pandangan matanya tersorot kepada seorang wanita cantik. Hatinya begitu terpikat kepada wanita tersebut. Tak menunggu lama lagi, akhirnya ia pun segera melaksanakan hasratnya untuk menemuinya. Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang sedang melantunkan ayat suci,

”Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyu hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi kitab, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Hadid : 16).

Ayat suci yang dibacakan itu tiba-tiba saja membawa Al-Fudhail  ke a lam kesadaran, kepada hati nurani yang selama ini hilang dan tertutupi noda-noda dosa, jiwanya begitu tersentuh dan terpanggil oleh Allah SWT untuk segera kembali kepada-Nya. Dengan jiwa yang kembali Al-Fudhail berkata, “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Lalu  beliau pulang dan mengurungkan niat sebelumnya, pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Maka beliaupun berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: “Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, Dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

Begitulah sejarah telah mencatat orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT. Dalam batas waktu tertentu, seorang Al-Fudhail akhirnya menemukan jalannya untuk tersungkur bersujud di hadapan Sang khaliq. Ayat di atas mestinya tidak hanya menggugah kesadaran Al-Fudhail, tetapi juga menggugah kesadaran kita semua yang mengingatkan betapa berharganya sang waktu dari pada hanya untuk sekedar kita lewatkan dengan menikmati kenikmatan-kenikmatan semu dalam kubangan maksiat, seperti sebuah pepatah mengatakan, ”Waktu bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, maka ia akan menghunusmu”.

Apa yang kita lakukan ketika waktu terus berlari meninggalkan kita, ia tak pernah merasa letih untuk sekedar beristirahat sejenak menunggu yang tertinggal, bahkan ia tak pernah berkompromi sedetikpun meskipun jam dinding telah kehabisan batrei. Ia terus melaju tanpa pernah peduli apapun kebiadaban yang dilakukan manusia di bumi ini. Ia hanyalah sang waktu yang diciptakan oleh Sang Maha Pengatur alam semesta ini untuk terus  berputar. Mengarungi siang dan malam dalam hitungan detik, menit, hari, bulan, tahun, abad dan seterusnya, bumi terus berputar dan bergerak mengelilingi matahari.

Tapi itu tidak berlanjut untuk selamanya, pasti ada akhirnya. Akhir dari masa kontrak kehidupan seseorang, akhir kehidupan suatu umat, suatu generasi, bahkan keseluruhan makhluk yang ada akan berakhir di suatu hari yang besar, hari kiamat. Semuanya fana, yang kekal hanyalah Dzat yang Maha Berkuasa, Allah Azza wa Jalla.

Kehidupan manusia terus berjalan melalui tahap demi tahap, di saat menikmati keceriaan masa kanak-kanak, ia beralih ke masa remaja yang penuh romantika, lalu masa dewasa yang sarat dengan beban-beban kehidupan, berakhir di masa tua yang lemah, akhirnya ia akan sampai di akhir kehidupannya, batas masa kontraknya. Dan ternyata masa kontrak itu tidak sama untuk setiap orang, ada yang lebih panjang ada pula yang lebih pendek, semuanya telah digariskan sebagai takdir yang mutlak.

Waktu kita terus melaju dengan cepat, hingga tak lama lagi ia akan tiba di garis finish : kematian. Siapakah yang tahu kapan ajal seseorang akan datang, ia akan tiba tanpa mengenal waktu, kapan saja, itu adalah rahasia Ilahi. Jika ia datang, maka tak ada seorang pun yang bisa mengundurkannya atau memajukannya barang sedetik saja.

Allah swt berfirman, ”Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (Yunus : 49).

Ketika itu telah terjadi, orang-orang yang lalai dalam hidupnya hanya bisa berkata, ”Ya Allah, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal shaleh yang telah aku tinggalkan.” Namun semuanya sudah terlambat, tak ada lagi gunanya penyesalan di waktu itu, Allah menimpali keluhan mereka itu, Sekali-kali tidak! Itu hanyalah dalih yang diucapkannya saja, sementara di belakang mereka ada barzah sampai hari mereka dibangkitkan. (Al-Mu’minun : 99-100).

Jadi, jika kematian itu tidak bisa ditunda, mengapakah kita menunda waktu untuk bertaubat dan segera berkemas diri untuk menjemput rahmat-Nya? Waktu ini terlalu singkat, sementara masih banyak tugas yang belum kita kerjakan sebagai hamba Allah swt. Dengan kecepatannya dalam melaju, kita harus berlomba dengan sang waktu, mengejar segala ketertinggalan. Hingga akhirnya kita akan tahu, siapakah yang akan jadi pemenangnya. Kitakah yang akan mengalahkan waktu, memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dalam meniti jalan menuju Allah, kembali kepada-Nya dengan merengkuh cahaya dalam kebersamaan-Nya, hingga kita telah siap ketika kematian itu tiba. Ataukah sang waktu yang akan mengalahkan kita, melibas kita dengan ketajamannya, di saat kita masih terkulai dalam kedurhakaan, ternyata waktu telah sampai di batas akhirnya. Kita pun menyesal tiada akhir.

Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Tidaklah suatu hari melewati anak Adam kecuali berkata kepadanya, ’Wahai anak Adam, aku adalah satu hari yang baru. Apa yang kamu kerjakan di dalamku, aku menyaksikan. Jika aku telah pergi meninggalkan, aku tidak akan pernah kembali lagi kepadamu. Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, kamu akan mendapatkan imbalannya di hadapanmu. Dan tundalah sekehendakmu, tetapi harus diingat kesempatanmu tidak akan pernah kembali kepadamu.”

Dalam menjalani hidup yang seakan berlomba dengan waktu ini, kita tidak hanya berjuang mempertahankan hidup kita dengan mengisi perut dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan-kesenangan duniawi yang sementara saja, akan tetapi mesti menyiapkan bekal untuk kembali kepada kehidupan yang abadi dengan memasuki pintu gerbang kebahagiaan yaitu bertaubat, kemudian memperbaiki diri, beriman, beramal shaleh, berhijrah ke jalan Allah dan berjihad di jalan-Nya. Sebagaimana yang terkumpul dalam ayat-ayat berikut ini,

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu dan memperbaiki dirinya. Sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nakhl : 119).

Barangsiapa melakukan yang demikian itu (dosa-dosa besar), niscaya dia mendapat hukuman yang berat.  (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Furqan [25] : 68-70).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Baqarah : 218)

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?. (Yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar.” (Ash-Shaff] : 10-12).

Selain itu, secara khusus kita juga harus melakukan dua hal berikut ini :

1. Mempersembahkan amal shaleh yang terbaik kepada Allah

    Karena memang untuk itulah hidup dan mati diciptakan. Allah swt berfirman, ”Dia Dzat yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya” (QS. Al-Mulk : 2). Orang-orang shaleh terdahulu telah banyak berjuang mempersembahkan amal terbaik, sehingga mereka menemui akhir hidup yang baik (husnul khatimah), perjalanan hidup mereka pun selalu menjadi inspirasi yang tak pernah habis untuk dijadikan teladan bagi umat berikutnya. Biografi Rasulullah saw tak pernah ada habisnya ditulis dan digali, karena beliau sebagai panutan yang sunnahnya wajib diikuti oleh kita, begitu pula para sahabat, tabiin, dan orang-orang shaleh berikutnya.

    Sejarah kejayaan Islam tidak kosong dari tetesan darah para Syuhada dan goresan tinta para Ulama. Orang-orang yang memiliki semangat tinggi di medan perang, mereka tidak lagi menginginkan kehidupan tetapi berharap kematian yang mulia karena besarnya balasan yang dijanjikan. Begitu pula para ulama yang dengan jerih payahnya mewariskan ilmu kepada setiap generasi dengan tekad membumikan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, mereka telah mengisi banyak waktunya bersama ilmu, menulis karya-karya besar, kitab-kitab tebal yang berjilid-jilid yang pada saat ini kita bisa menikmati karya mereka, meski waktu yang memisahkan antara kita dan mereka begitu jauh. Ilmu itu begitu banyak di berbagai bidang, seperti Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, Tafsir, Hadits dan ilmu-ilmunya, Fiqih dan ushul fiqih, sejarah Rosulullah saw, sejarah Islam, bahasa Arab, bahkan tidak hanya di bidang syar’i tapi juga di bidang kauni seperti ilmu sosial, ilmu kedokteran, ilmu matematika, fisika, kimia, psikologi, astronomi dan yang lainnya.

    Abu Darda seorang sahabat Rasulullah saw berkata, ”Seandainya bukan karena tiga hal, aku tidak ingin hidup meskipun hanya satu hari; siang hari aku dahaga pada Allah dengan menghindari larangan-Nya, bersujud kepada Allah di tengah malam, bergaul dengan orang-orang yang memilih tutur kata yang manis seperti memilih kurma yang baik.” Belum lagi kisah orang yang gigih menegakkan kalimat Allah dengan berharap mati syahid, sehingga apabila ia menemui syahidnya, ia merasa ingin kembali lagi dihidupkan untuk merasakan nikmatnya mati syahid. Mereka benar-benar menyerahkan hidupnya hanya untuk Allah SWT.

    Sementara orang yang tidak mau mempersembahkan amal terbaiknya, biografinya selesai hanya ditulis dengan tiga baris kata; fulan bin fulan, lahir tanggal sekian, bulan dan tahun sekian, dan wafat tanggal sekian, bulan dan tahun sekian. Jika demikian, tak ada makna sama sekali hidup ini.

    2. Istiqomah dalam melakukan amal shaleh

      Seharusnya kita tak pernah lelah barang sejenakpun dalam beramal shaleh, karena waktu juga tak pernah merasa letih untuk terus melaju. Allah swt berfirman, ”Jika engkau selasai melakukan suatu pekerjaan, maka tetaplah bekerja keras (untuk melakukan pekerjaan lain)”. (QS. Al-Insyirah : 7). Jangan biarkan sedetik saja hidup kita berada dalam kekosongan hingga pikiran kita melintas pada suatu hal yang tidak baik, karena kata Ibnul Qayyim rahimahullah, dari lintasan pikiran itulah akan timbul gagasan, dari gagasan menjadi keyakinan, kemudian berubah menjadi kemauan, dan akhirnya menjadi suatu tindakan. Jika tindakan itu dilakukan secara terus menerus ia akan menjadi kebiasaan, dan jika kebiasaan itu terus berlanjut ia akan menjadi watak. Jika sudah begitu, akan sulit untuk dirubah.

      Oleh sebab itulah, orang-orang shaleh tidak mau menyia-nyiakan waktunya barang sedetik saja, Ibnu Aqil berkata, ”Tidak kubiarkan diriku membuang-buang umur hingga apabila lidahku selesai membaca dan berdiskusi, serta mataku setelah bekerja menelaah, aku bekerja dengan pikiranku sewaktu istirahat dengan berbaring.” Bahkan ketika seseorang berkata kepada Amir bin Abdi Qais, ”Mari kita ngobrol sebentar!” Ia menjawab, ”Aku mau mengobrol jika engkau bisa menghentikan matahari dari peredarannya.”

      Rasulullah saw bersabda, bahwa orang mu’min itu tidak bergerak melangkah kecuali untuk tiga perkara, yaitu; membekali diri untuk akhirat, atau mencari nafkah untuk hidup, atau sekedar menikmati hal-hal yang tidak diharamkan. Beliau pun bersabda, ”Merupakan kebaikan Islam seseorang, meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuknya”.(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah ra).

      Diriwayatkan dari Aisyah ra, dari Nabi saw, ia bersabda: ”Berlaku luruslah kalian, sederhanakanlah oleh kalian (beribadah sesuai kemampuan), dan berikanlah kabar gembira bahwa amal seseorang tidak akan memasukkan dirinya ke surga. Mereka bertanya, dan tidak juga engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab, dan tidak pula aku, hanya saja Allah telah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari)

      Diriwayatkan dari Aisyah ra, dari Nabi saw, ia bersabda: ”Berlaku luruslah kalian, sederhanakanlah oleh kalian (beribadah sesuai kemampuan), dan ketahuilah bahwa amal seseorang tidak akan memasukkan dirinya ke surga, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai (Allah) adalah yang dilakukan terus menerus meskipun sedikit (istiqomah).” (HR. Bukhari)

      Hasbunallahu wani’mal wakil

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s