Menggapai Ketenangan Jiwa

Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.
Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Quran menyebutkan beberapa kiat praktis.
Baca lebih lanjut

(2) Memulai dengan Yang Akhir

Memulai dengan yang akhir berarti memulai setiap aktifitas amal shaleh yang berlandaskan pengharapan akan pertemuan dengan Allah Azza dengan memperhatikan akhir dari kehidupan, yaitu kematian. Kita mesti memikirkan dan merenungkan terlebih dahulu bagaimana keadaan kita di saat menghadapi kematian dengan amal yang akan kita lakukan, baik ataupun buruk. Sehingga kita tidak beramal kecuali benar-benar memperhatikan apa yang didapat dari amal tersebut. Karena kematian itu akan datang dimana saja kita berada dan pada waktu yang tidak kita ketahui.

أينما تكونوا يدرككم الموت ولو كنتم في بروج مشيدة ، النساء ٤ : ۷۸

“Dimana saja kalian berada, kematian akan menghampirimu walaupun kalian berada di dalam benteng yang kokoh.” (QS. Annisa, 4 : 78).

قل إن الموت الذي تفرون منه فإنه ملاقيكم ثم تردون إلى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون. الجمعة ٦۲ : ۸

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka benar-benar dia akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat Yang Maha Mengetahi yang ghaib dan yang nyata, lalu Ia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian perbuat.” (QS. Al-Jumu’ah, 62 : 8).
Baca lebih lanjut

Ujian dan Bukti Keimanan

Meski kita berada di negeri yang sumber daya alamnya kaya raya, namun dari hari ke hari situasi ekonomi semakin sulit dirasakan. Hal ini terjadi karena ulah para pemimpin yang tidak mampu mengelola kekayaan negeri ini dengan baik. Yang seharusnya para pemimpin kita itu mengelola alam yang ada untuk kesejahteraan rakyat, justeru kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan semakin menyengsarakan rakyat, hal itu dapat kita lihat dari kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM mulai 1 April 2012 mendatang. Alasan-alasan yang mereka kemukakan sangat terasa tidak berpihak kepada rakyat, mereka lebih berpihak kepada asing serta mengikuti pasar internasional, tidak mempedulikan bagaimana kondisi rakyatnya, padahal masih banyak yang miskin. Ketika mereka mengeluarkan kebijakan itu, mungkin mereka tidak merasakan kesulitan karena hal itu tidak memberatkan hidup mereka, mereka dapat duduk santai di istana dengan hanya mengeluarkan komentar-komentar. Tetapi bagaimanakah yang dirasakan oleh rakyat di bawahnya? Inilah kerusakan para pemimpin kita hari ini. Yang seharusnya pemimpin itu menjadi orang yang pertama merasakan kesulitan rakyatnya, justeru mereka bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Bahkan, budaya korupsi telah menjamur di antara mereka.
Baca lebih lanjut

(1) Pencarian Yang Sesungguhnya

Yang dicari oleh seorang pejuang di jalan Allah di dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya adalah pertemuan dengan Sang Pencipta, melihat langsung wajah Allah SWT yang maha mulia, karena keni’matan yang paling tinggi di surga adalah menatap wajah Allah SWT. Kecintaan yang lahir dari iman pejuang itu akan melahirkan kerinduan yang mendalam untuk dapat bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.

عن صهيب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا دخل أهل الجنة الجنة يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم؟ فيقولون ألم تبيض وجوهنا ؟ ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار ؟ فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل، ثم تلا هذه الآية (للذين أحسنوا الحسنى و الزيادة ) يونس : 26 رواه مسلم

Dari Shuhaib ra. Bahwasannya Rasulullah saw bersabda: apabila penghuni surga masuk surga, Allah SWT berfirman : maukah kalian Aku tambahkan sesuatu untuk kalian? Maka mereka menjawab, bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Maka tersingkaplah tabir, maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang mereka cinta selain dari melihat Rabb mereka Azza wa Jalla, kemudian beliau membaca surat “ Bagi orang-orang yang berbuat baik mendapat kebaikan (surga) dan tambahan (yaitu melihat wajah Allah SWT)”. [Surat Yunus : 26]. (HR. Muslim).
Baca lebih lanjut

Menarik Garis Perjuangan

Oleh : Muhammad Atim

Bidang Kajian Ilmiah PW HIMA Persis DKI Jakarta

Mahasiswa/i Persatuan Islam (PERSIS) adalah sekelompok kaum muda yang menyimpan banyak potensi, terlebih mereka lahir dari rahim pusat pembangunan mental, moralitas dan keilmuan bernama Pesantren, sebuah sistem pendidikan yang telah ada di bumi nusantara sebelum munculnya sekolah-sekolah umum dan telah mampu melahirkan tokoh-tokoh besar yang telah berperan dalam membangun negeri ini, dan belakangan dituduh sebagai sarang terorisme. Nuansa kehidupan pesantren yang merupakan penggambaran dari “Islamic Lifestyle” (corak hidup islam) setidaknya menjadi bekal utama saat terjun ke dunia kemahasiswaan yang sarat dengan dinamika intelektual dan pemikiran.
Baca lebih lanjut

Ibu adalah Masa Kecilku

Ibu, mengingatmu berarti mengingat masa kecilku. Sekelebat bayanganmu, mengingatkan masa-masa kemanjaanku bersamamu. Inginku menggapai kembali kasih sayangmu, namun apalah daya, kini rinduku telah terhalang barzah. Ingin rasanya berbakti kepadamu, tapi engkau telah tiada. Begitu besar kasih sayangmu kepadaku. Begitu besar pengorbananmu saat engkau mengandungku selama sembilan bulan, terlebih saat engkau melahirkanku ke pelataran bumi dengan seluruh hidup yang engkau curahkan. Saat kau berhasil mengantarkanku ke dunia, sunggingan senyum pun merekah dari bibirmu yang indah, engkau pun bahagia melihat kehadiranku yang menangis dengan suara khas sang bayi. Memang, aku hanya bisa menangis waktu itu. Saat aku ingin menete, saat aku ingin digendong, saat aku merasa gatal, saat aku merasa gerah, saat aku tidak betah dengan air seniku, semua aku ungkapkan dengan bahasa tangisan. Namun engkau selalu setia merawatku dengan segala perhatian.
Baca lebih lanjut

Hidup Seperti Bunga

 

Hiduplah seperti BUNGA

yang menjadi wakil dari keindahan dan cinta dengan akhlak mulia

Memberi wangi tanpa berharap untuk diberi

Wanginya berasal dari titik bunga yang berarti hati kita

Dan bila bunga menjadi layu dan mati ia menjadi pupuk bagi induknya. Jika kita meninggal, hendaklah menjadi pupuk bagi keberlangsungan hidup yang penuh manfaat.

(Dari Nasihat Sang Penyair, Sir Muhammad Iqbal)